Suara Denpasar - Belum lama ini Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mendapat sorotan tajam usai keriuhan soal pemecatan guru hononer asal Cirebon.
Ridwan Kamil dinilai publik anti kritik. Terutama, usai menanggapi pertanyaan kritis seorang guru honorer di Cirebon.
Mulanya, seorang guru honorer di Cirebon itu mengomentari unggahan Ridwan Kamil.
Namun komentar tersebut, dinilai Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, bukanlah sebuah pertanyaan kritis.
Ridwan Kamil kemudian memberi klarifikasi dan menjelaskan bahwa komentar yang dipakai guru honorer itu bernuansa kasar, tidak layak digunakan pada seorang pemimpin.
Menanggapi hal tersebut, Rizki Sanjaya, seorang pegiat Bahasa Sunda berupaya menguraikan duduk persoalan bahasa yang menjadi pemicu keriuhan belakangan.
"Pada dasarnya setiap bahasa memiliki ragamnya tersendiri. Khusus dalam bahasa Sunda, setiap tempat memiliki dialek maupun ragam bahasa yang dipengaruhi banyak hal. Bisa karena hidup di pegunungan, pantai, pedesaan, atau perkotaan," kata Rizki Sanjaya, saat dihubungi Tim Suara Denpasar, Kamis, (16/3/2023).
"Sebagai komunikan, kita tidak bisa menyalahkan gaya bahasa seseorang. Terlebih jika orang tersebut berasal dari wilayah yang berbeda," katanya lagi.
Lebih lanjut, Rizki Sanjaya juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Sabil, selaku guru honorer tersebut, bukan merupakan suatu soal.
Baca Juga: 4 Tips Tidur Tetap Nyenyak Ketika Hidung Tersumbat
Namun murni pertanyaan biasa yang ditujukan warga pada pimpinannya.
"Dari pertanyaan yang diajukan Sabil, saya tidak melihat ada kritik maupun tendensius yang mendesak. Murni bersifat pertanyaan dari warga biasa, kepada pemimpinnya," ungkapnya.
Kemudian ia menjelaskan pula perihal keragaman dialek bahasa Sunda, terutama yang ada di wilayah pesisir, tentunya berbeda dengan yang biasa digunakan di wilayah pegunungan, seperti misalnya Bandung.
"Dialek bahasa Sunda di Cirebon cukup unik. Cirebon identik dengan wilayah pelabuhan, dekat pantai utara, berbatasan dengan Jawa Tengah, dan memiliki budaya keraton yang mengakar," pungkasnya.
Sebagai informasi tambahan, belakangan diketahui bahwa seorang guru di Cirebon itu bernama Muhammad Sabil Fadhilah.
Ia merupakan guru SMK Telkom Sekar Kemuning, Kota Cirebon, Jawa Barat. (*/Ana AP)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kayumanis Memanas! Warga Pasang Banner Tolak Keras Pembangunan PSEL Kota Bogor
-
Siap-Siap Pesta Musik Terbesar, PBB Bakal Gebrak Cibinong: Catat Waktunya!
-
Tiga Pegawai PTBA Raih Penghargaan Nasional Satyalancana Wira Karya dari Presiden
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Bank Sumsel Babel Bedah Rumah Ibu Ojol di Palembang, Nurmalinda Kini Punya Harapan Baru untuk 3 Anak
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Mencoba Tuak Dayak: Minuman Tradisional yang Hanya Keluar Saat Pesta Panen Gawai
-
Detik-detik Kebakaran Hebat di Pasar 16 Ilir Palembang Malam Ini, Pedagang Panik saat Muncul Kilatan
-
Misi Besar Bojan Hodak Lanjutkan Tren Positif Persib Bandung atas Persija Jakarta