/
Minggu, 11 Juni 2023 | 11:33 WIB
Global Oncology Summit 2023 di Bali, Bahas Transformasi Teknologi Kesehatan

Suara Denpasar - Global Oncology Summit (GOS) 2023 membahas transformasi teknologi kesehatan dengan mengangkat tema Biomedical & Genome Sequencing towards Oncology Precision Medicine di Ungasan, Bali, Sabtu (10/6/2023).

Kegiatan tersebut kolaborasi antara PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha Global Onkolab Farma (GOF) dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi), dan Perhimpunan Ahli Onkologi Indonesia (POI). 

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius mengatakan Global Oncology Summit (GOS) 2023 merupakan upaya bersama untuk mendorong penyediaan precision and personalized medicine untuk beberapa terapi penyakit, termasuk kanker, dengan memanfaatkan kekuatan informasi genetik.

“Kalbe mendukung upaya Kementerian Kesehatan untuk melakukan transformasi teknologi kesehatan sebagai bagian dari enam pilar transformasi kesehatan yang telah disusun oleh pemerintah. Melalui Kalbe Global Oncology Summit 2023, menjadi bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker yang sejalan dengan misi Kalbe, yakni meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik,” terang Vidjongtius. 

Vidjongtius menambahkan bahwa pihaknya mengapresiasi upaya pemerintah untuk terus melakukan pengembangan dan pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan bioteknologi terutama di dalam negeri untuk memperkuat sektor kemandirian kesehatan di Indonesia. Peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) dan pemanfaatan teknologi dan digitalisasi dapat merevolusi perawatan kanker dan meningkatkan kesehatan pasien.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa sekitar 10 juta jiwa di seluruh dunia meninggal dunia akibat kanker setiap tahunnya. Pada tahun 2022 terdapat 3 juta kasus kanker yang telah menelan pembiayaan BPJS lebih dari Rp4,5 triliun, menjadikan kanker sebagai penyakit katastropik dengan pembiayaan terbesar sekaligus pembunuh kedua setelah penyakit jantung.

Melihat kondisi tersebut, Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie Djohan mengatakan Kalbe mengembangkan ekosistem layanan kanker yang disebut One Onco, sebagai solusi lengkap menghadapi kanker melalui ekosistem One Onco. Seperti layanan kanker mulai dari penyediaan akses screening dan deteksi dini kanker, hingga bekerja sama dengan ratusan fasilitas kesehatan di Indonesia, termasuk memperluas akses masyarakat kepada dokter onkologi melalui KlikDokter.   

“Untuk mendukung kemandirian kesehatan dalam negeri, Kalbe juga memproduksi obat kanker di dalam negeri, salah satunya Erlotinib sebagai obat kanker paru dengan tingkat TKDN yang tinggi,” tambah Mulialie Djohan. 

Berkaitan dengan terapi kanker yang presisi dan personal,  kata Djohan Kalbe telah menjadi pionir dalam diagnostik molekuler untuk kanker melalui layanan pemeriksaan Comprehensive Genomic Profiling (CGP) dengan teknologi Next Generation Sequencing (NGS) oleh KalGen Innolab.  

Baca Juga: Foto Bareng Teman Lama, Sirkel Ketum PSSI Erick Thohir Bikin Melongo

"Melalui Stem Cell and Cancer Institute (SCI) yang dimiliki Kalbe, telah dikembangkan beberapa kit untuk deteksi mutasi pada lung cancer (kanker paru). Sebelumnya juga telah memiliki track record untuk mengembangkan kit diagnostik berbagai macam jenis kanker, misalnya untuk kanker serviks, colorectal cancer,” tutur Djohan.

Sementara Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia, Apt, M.Pharm, MARS; dan BGSi Advisor, Ines Atmosukarto, Ph.D., menjelaskan kerjasama pemerintah dan PT Kalbe Farma Tbk tersebut guna mendorong transformasi 6 pilar kesehatan di Indonesia. 

"Even Global Oncology Summit ini mendukung transformasi pilar yang ketiga yaitu transformasi ketahanan kesehatan dibidang kefarmasian alat kesehatan. Selain itu juga mendukung pilar transformasi yang keenam yaitu teknologi kesehatan," kata Rizka. 

Perlu ada kerja sama antara riset, industri. Nah bagaimana perannya pemerintah, pemerintah memfasilitasi. Memberikan fasilitasi kebijakan, fasilitasi riset dan sebagainya," tutup Kemenkes, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia. (Rizal/*)

Load More