Suara Denpasar - Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus dan masyarakat yang dimotori oleh mahasiswa dari Universitas Udayana (Unud) Bali melakukan aksi di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Bali, Kamis (7/9/2023), sore.
Koordinator aksi, Dimastio yang juga merupakan Bem Unud itu mengatakan aksi tersebut bertajuk "September Hitam" memperingati pelanggaran HAM berat masa lalu yang terjadi di bulan September yang sampai hari ini belum diselesaikan oleh pemerintah.
Pelanggaran HAM yang terjadi pada bulan September seperti tragedi pembunuhan Munir Said Thalib, tragedi pembunuhan Salim Kancil tragedi Semanggi tragedi Reformasi. Aktor di balik semua tragedi itu sampai saat ini masih berkeliaran bahkan berada dalam pemerintahan Jokowi.
Atas dasar itu, mereka memberikan raport merah terhadap presiden Jokowi yang dianggapnya tidak hanya gagal menyelesaikan kasus HAM di Indonesia, tetapi juga karena menambah produk-produk hukum yang mencekik kebebasan berpendapat.
"Tentunya raport merah bagi pemerintahan Jokowi dalam konteks penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu dan penegakan HAM di Indonesia," ujar Dimastio saat ditemui Suara Denpasar, Kamis (7/9/2023).
"Tentunya hari ini kami melihat di rezim Jokowi ada banyak sekali aktor-aktor yang terindikasi justru mendapatkan jabatan strategis di lingkaran kekuasaan. Jadi saya menganggap bahwa kemudian kenapa penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tidak kunjung selesai karena adanya faktor politik," sambungnya.
Sementara, Ananta yang juga merupakan bagian dari Bem Fakultas Hukum Unud mengatakan raport merah bagi Jokowi tersebut karena tidak ada keseriusan dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.
"Raport merah bagi pemerintah Jokowi sekarang karena tindak lanjut dari penyelesaian kasus HAM sampai hari ini memang dia (Jokowi) sudah membentuk tim dan lain sebagainya tapi komitmennya untuk menuntaskan sampai akhir periodenya saat ini progresnya tidak bisa kita katakan berkembang atau selesai bahkan dalam hal penyelesaiannya selalu menemui jalan buntu," tambah Ananta. (Rizal/*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Kesaksian Horor Google Maps Bongkar Sisi Gelap Daycare Little Aresha, Orang Tua Langsung Speak Up
-
Respons PBB Usai Prajurit TNI Praka Rico Pramudia Gugur di Lebanon, Desak Israel Hentikan Serangan
-
Menjual Harapan ke Tanah Suci: Nestapa Pasangan Lansia Lumajang Terjerat Muslihat Haji Jalur Cepat
-
Fitur QRIS di Kartu Kredit Resmi Hadir! Honest Card Ubah Cara Bayar Harian Jadi Lebih Fleksibel
-
UU PPRT Resmi Disahkan, Migrant Watch Peringatkan Risiko Eksploitasi Jika Tanpa Upah Minimum
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
7 RW di Kemayoran Ogah Ikut Musrenbang, Rano Karno Ungkap Biang Masalah 35 Tahun
-
31.000 Rumah Terdampak Bencana Terima Dana Stimulan Perbaikan Hunian
-
Teka-teki Wali Nikah Syifa Hadju, Ayah Kandung Hadir atau Pakai Wali Hakim?
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu