Suara Denpasar - Pura Agung Besakih, salah satu destinasi spiritual yang luar biasa di Bali. Tempat suci ini terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Jika kamu berangkat dari Kota Denpasar, perjalanan menuju ke sini hanya sekitar 25 km ke utara dari Kota Semarapura – Kabupaten Klungkung.
Melansir dari Suara Bali, nama "besakih" mempunyai akar kata dalam Bahasa Sansekerta, yaitu "wasuki" atau dalam bahasa Jawa Kuno disebut "basuki," yang memiliki arti "selamat." Selain itu, nama Pura Besakih juga terkait erat dengan mitologi Naga Basuki yang menjadi penyeimbang bagi Gunung Mandara.
Menurut informasi resmi dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, Pura Besakih dibangun dengan sengaja di desa yang dianggap sebagai tempat suci karena letaknya yang tinggi, disebut "Hulundang Basukih," yang kemudian menjadi Desa Besakih. Pura Agung Besakih ini dianggap sebagai yang terbesar dan paling megah di Bali.
Pura Besakih adalah pusat kegiatan spiritual bagi seluruh Pura di Bali. Di antara semua Pura yang tergabung dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah yang paling besar.
Pura Penataran Agung ini memiliki bangunan-bangunan pelinggih yang paling banyak, jenis upakara yang paling beragam, dan merupakan pusat dari semua Pura yang ada di kompleks Pura Besakih.
Di dalam Pura Penataran Agung, kamu akan menemukan 3 pelinggih utama yang dikenal dengan sebutan Padma Tiga, yang melambangkan Tri Purusha, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.
Kompleks Pura Besakih dibangun dengan memperhatikan keseimbangan alam dalam konsep Tri Hita Karana, di mana penataannya mengikuti arah mata angin. Hal ini dilakukan agar struktur bangunan mencerminkan keseimbangan alam sebagai simbolisme penting. Setiap arah mata angin disebut mandala, dengan dewa penguasa yang dikenal sebagai "Dewa Catur Lokapala," dan mandala tengah menjadi porosnya, sehingga kelima mandala ini berkumpul menjadi "Panca Dewata."
Berikut adalah struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan arah mata angin:
1. Pura Penataran Agung Besakih, berada di tengah sebagai pusat mandala, yang didedikasikan untuk memuja Dewa Çiwa.
2. Pura Gelap, terletak di arah Timur, digunakan untuk memuja Dewa Içwara.
3. Pura Kiduling Kereteg, berada di arah Selatan, digunakan untuk memuja Dewa Brahma.
4. Pura Ulun Kulkul, terletak di arah Barat, digunakan untuk memuja Dewa Mahadewa.
5. Pura Batumadeg, berada di arah Utara, digunakan untuk memuja Dewa Wisnu. (*/Dinda)
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Hornet Diminta Dihapus dari App Store dan Play Store, Komdigi Ungkap Masalahnya
-
Jangan Asal Timpa, Dokter Ungkap Cara Re-apply Saat Pakai Tinted Sunscreen
-
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
-
Sinyal HP Tumbang, 200 BTS Rusak: Begini Update Gempa NTT
-
Data Sering Nyangkut, DPRD DKI Minta Mekanisme Sanggah Manual untuk Desil Warga
-
Cara Pakai Tinted Sunscreen Yang Benar Ala dr Zie Untuk Samarkan Flek Hitam
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Skybar ibis Styles Yogyakarta Kembali Dibuka, Hadirkan Beragam Agenda Rutin
-
Kawasan Hutan 60 Hektare Diduga Punya Anggota DPRD Kampar, Belum Ada Tersangka
-
2026 Is the New 2016, Mengapa Gen Z Kangen Internet yang Dulu?