/
Jum'at, 26 Agustus 2022 | 14:49 WIB
Jenderal Hoegeng (twitter.com) / KompasKlasika

Depok.suara.com - Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah memuji Hoegeng Iman Santoso sebagai salah satu polisi yang jujur di negeri ini. Memang sedikit polisi yang jujur, jelas Gus Dur ketika itu, hanya ada polisi tidur dan patung polisi, dan ketiganya baru Hoegeng.

Ungkapan ini bukan tanpa alasan. Hoegeng yang menjabat sebagai Kapolri dari tahun 1968-1971 ini terkenal jujur dan berani. Dirinya banyak mengungkap beberapa kasus besar seperti penyelundupan mobil mewah hingga perjudian.

Hoegeng melakukan pemberantasan kasus perjudian ketika ditugaskan ke Medan, Sumatra Utara untuk menjabat sebagai Kadit Reskrim Polda Sumut. Ketika itu memang ada upaya melakukan pembersihan besar-besaran kasus penyelundupan, perjudian, dan perampokan di Sumut.

Medan bukanlah wilayah yang mudah untuk bekerja, karena ujiannya yang sangat besar, terutama bagi polisi jujur dan tidak mudah disuap, seperti Hoegeng. Tetapi memang tempat yang nyaman bagi polisi yang mudah melanggar hukum.

Sebelum datang ke Medan, seorang kenalan Hoegeng pernah memberikan info tentang karakter situasi di Medan, khususnya dunia bisnis. Biasanya mereka akan mendekati pejabat-pejabat yang ditempatkan di Medan, terutama kejaksaan dan kepolisian.

Ternyata benar, Hoegeng yang baru turun dari pelabuhan, langsung dicegat oleh perwakilan pebisnis nakal. Utusan itu mengatakan telah membelikan mobil dan rumah bagi Hoegeng. Namun pria Pekalongan ini menolaknya secara halus.

Bukan hanya rumah dan mobil, ketika Hoegeng akan pindah ke rumah dinasnya, di dalamnya sudah ada perabot mewah seperti piano, kulkas, tape, kursi tamu, beserta perabot mahal lainnya. Hoegeng kontan menyuruh anggota polisi dan kuli membantu mengeluarkannya.

Dibeking oknum aparat

Bisnis ilegal yang menonjol di kawasan Medan biasanya adalah penyelundupan dan perjudian. Bisnis ini bisa berjalan dengan lancar, karena ada beking dari oknum tentara dan juga kepolisian. 

Baca Juga: Perbedaan Uang Pensiun Mengundurkan diri dan Diberhentikan dengan Tidak Hormat

Dalam beberapa pengungkapan kasus di Medan, Hoegeng menemukan bila diusut di belakang aktivitas itu ujung-ujungnya modal pebisnis nakal yang berperan, sedangkan para okum aparat sebenarnya tak lebih dari kacung-kacung pelaku bisnis ilegal tersebut.

"Sebuah kenyataan yang amat memalukan," gumam Hoegeng dengan geram yang dimuat dalam buku Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa.

Dalam pengungkapan kasus ini Hoegeng sering menangkap basah para oknum polisi dan tentara. Ada oknum yang akhirnya pasrah sehingga dilaporkan kepada atasannya. Tetapi ada juga yang tidak menerima sehingga mengirim santet kepada Hoegeng.

Namun Hoegeng terus saja bergerak, dicatat oleh Aris, ketika memimpin Reskrim tak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian di Sumut yang berhasil dibongkar. Kasus-kasus yang ditangani banyak sekali, frekuensinya tak terhitung lagi.

Seusai pendidikan, Hoegeng kemudian dipindahkan ke Komisariat Kepolisian Jakarta Raya -kini Polda Metro Jaya- dan masih menjabat sebagai Direktur Reskrim. Seperti saat ke Medan dulu, Hoegeng dan keluarga kembali ke Jakarta dengan kapal.

"Selama perjalanan, Hoegeng mengenang pengalaman-pengalaman manis saat bertugas di Medan. Kontras dengan saat menjelang ditugaskan ke Medan dulu, kini Hoegeng meninggalkan Medan dengan pikiran cerah dan hati lega," paparnya.

Load More