/
Selasa, 01 November 2022 | 08:42 WIB
Abc news

Biden Ngamuk ke Zelensky

Presiden AS Joe Biden dilaporkan sempat marah ke Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ini terjadi Juni lalu, kata beberapa orang yang dekat dengan masalah ini.

Hal itu bermula dari panggilan telepon, saat keduanya berbicara soal paket baru bantuan AS untuk militer Ukraina. Saat Biden baru memberi tahu bahwa dia baru saja memberi bantuan militer sebesar US$ 1 miliar lagi untuk Ukraina, Zelenky malah mendaftar semua bantuan tambahan yang dia butuhkan dan tidak dia dapatkan.

"Biden kehilangan kesabaran," kata orang-orang yang akrab dengan panggilan itu, dikutip NBC.

"Orang-orang Amerika cukup murah hati, dan pemerintahannya serta militer AS bekerja keras untuk membantu Ukraina, tegas Biden kala itu, meninggikan suaranya. Zelensky seharusnya dapat menunjukkan sedikit lebih banyak rasa terima kasih," katanya lagi.

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional menolak mengomentari cerita tersebut. Seorang juru bicara Zelenskyy tidak menanggapi permintaan komentar.

AS Hubungi China 

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara dengan rekannya dari China tentang perang Rusia di Ukraina. Hal ini dikonfirmasi Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

"Blinken berbicara dengan Penasihat Negara Republik Rakyat China dan Menteri Luar Negeri Wang Yi," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

Baca Juga: Kebijakan Pembebasan Tarif Ekspor CPO Diperpanjang sampai Desember 2022

"Menteri itu mengangkat perang Rusia melawan Ukraina dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap keamanan global dan stabilitas ekonomi," tambahnya.

Washington sendiri telah berulang kali memperingatkan Beijing. Paman Sam meminta agar Tirai Bambu tidak memberikan bantuan keuangan ke Moskow untuk membantu Presiden Rusia Vladimir Putin menumpulkan sanksi global.

Jumlah Korban Baru Perang

PBB telah mengkonfirmasi 6.430 kematian warga sipil dan 9.865 cedera di Ukraina sejak Rusia menyerang 24 Februari.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan jumlah korban tewas di Ukraina kemungkinan lebih tinggi karena konflik bersenjata dapat menunda laporan kematian.

Organisasi internasional itu mengatakan sebagian besar korban sipil yang tercatat disebabkan oleh penggunaan senjata peledak dengan area dampak yang luas. Termasuk penembakan dari artileri berat dan beberapa sistem peluncuran roket, serta rudal dan serangan udara.

Pengiriman Ekspor dari Ukraina

Meski di bawah tekanan Rusia, 12 kapal yang membawa gandum telah meninggalkan pelabuhan Ukraina kemarin. Hal ini terjadi di tengah panarikan Rusia dari perjanjian di Laut Hitam untuk membuka ekspor Ukraina.

"Rekor 354.500 ton biji-bijian diangkut dengan kapal yang meninggalkan pelabuhan Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam," kata juru bicara militer wilayah Odessa.

Sementara itu, menanggapi keputusan Rusia untuk menghentikan partisipasi dalam kesepakatan itu, PBB, Turki dan Ukraina mencapai kesepakatan pada hari Minggu untuk membuka blokir 16 kapal gandum di perairan Negeri Sufi. Perjanjian ini menyelesaikan backlog inspeksi yang diberlakukan Rusia dan membantu mencegah kekhawatiran akan krisis pangan global.

"Delegasi PBB dan Turki menyediakan 10 tim inspeksi untuk memeriksa 40 kapal," kata Oleksandr Kubrakov, Menteri Infrastruktur Ukraina.

"Delegasi Rusia mengetahui rencana inspeksi baru," tambahnya.

Load More