Suara.com - Budayawan yang juga seorang politikus Eros Djarot mengingatkan para produser film di Indonesia untuk tidak pernah menyentuh dan membuat film yang mengangkat kisah seputar 30 September.
Eros Djarot yang aktif di Partai Demokrasi Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarno Putri dan Partai Nasionalis Bung Karno berpartisipasi sebagai pembicara dalam diskusi "Politic in Film," yang diadakan dalam rangkaian Frankfurt Book Fair yang berlangsung di Deutsches Filmmuseum, Frankfurt, Sabtu (17/10/2015) malam.
Dalam acara diskusi bersama Sutradara film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Angga Dwimas Sasongko, yang dihadiri Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Prof. Dr. Endang Caturwati, dan kurator Natascha Gikas, adik dari bintang film Slamet Rahadjo menekankan agar produser film Indonesia jangan pernah menyentuh masalah yang sensitif tersebut.
Diakuinya film yang dibuat dengan tema politik tidak akan populer, meskipun Indonesia dalam masa kependudukan Jepang, film digunakan sebagai alat politik.
"Film semata mata hanyalah alat hiburan," ujar Pendiri dan Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) dan Nominator Mike Burke's Award, BBC documentary Competition.
Erros Djarot kelahiran Rangkasbitung pada tahun 1988 menjadi Sutradara Terbaik untuk film Tjoet Nja' Dhien, dan pencipta original soundtrack, Badai Pasti Berlalu serta sutradara Kantata Takwa, merasa kecewa karena pada tahun 2008 film Lastri yang disutradarainya tidak dapat diselesaikannya karena diadaptasi dari buku Suara Perempuan Tragedi '65 karya Ita F. Nadia.
"Banyak kendala yang saya hadapi," ujar Erros Djarot kepada Antara London menjelang pemutaran film pada saat pembuatan tahun 2008, sejumlah tekanan diterimanya untuk menghentikannya, antara lain dari Front Pembela Islam, FPI saat pengambilan gambar di Solo.
Eros mengaku memang tidak pernah ada surat formal untuk memintanya berhenti, namun tekanan yang dialaminya membuat dia akhirnya menghentikan produksi film yang baru berjalan sepuluh persen itu.
Untuk itu dari pengalamannya Erros Djarot mengakui bahwa membuat film seputar 30 September di Indonesia masih merupakan hal yang tabu dan tidak boleh diungkit-ungkit lagi.
Sementara itu Sutradara film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Angga Dwimas Sasongko mengakui bahwa ia sangat senang film ya bisa diputar dalam rangkaian acara Frankfurt Book Fair dimana Indonesia menjadi 'guest of honour" dalam penyelenggaraan pameran terbesar di dunia.
Angga mengakui bahwa ada tiga film yang membuatnya terjun ke dunia film salah satunya yaitu film Erros Djarot, Tjoet Nja Dhien yang membuatnya bertekad untuk menjadi sutradara film.
Cahaya Dari Timur: Beta Maluku merupakan film drama Indonesia tahun 2014 yang dibintangi Chicco Jerikho dan Shafira Umm dan dirilis pada tanggal 19 Juni 2014, diangkat dari kisah nyata yang sejak awal menghadirkan gambaran kondisi yang sebenarnya berdasarkan cerita.
Angga Dwimas Sasongko kelahiran di Jakarta,11 Januari 1985 menyutradarai sekaligus memproduseri film pertamanya Foto Kotak dan Jendela pada tahun 2006 saat usianya baru 21 tahun.
Film terakhirnya Hari Untuk Amanda mendapatkan delapan nominasi Piala Citra 2010 termasuk Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik - Oka Antara, Pemeran Utama Wanita Terbaik - Fanny Fabriana dan Film Terbaik.
Dalam rangkaian Frankfurt Book Fair, Indonesia mengelar acara "Indonesian Film Parade," selama sebulan bekerjasama dengan Archipelago in Motion dengan menampilkan film 15 film dan dua film "short compilation." Penanggung jawab Indonesian Film Parade, Wahyu Aditya mengatakan ke 15 film yang diputar sejak tanggal 6 hingga 30 Oktober selain Cahaya Dari Timur: Beta Maluku juga ada film Tjoet Nja Dhien, Sang Pencerah, Tabula Rasa, The Raid, Laskar Pelangi dan film buatan 1954 Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail.
Menurut Wahyu Aditya, banyak film Indonesia yang dibuat dan berdasarkan buku yang best seller dan bahkan kadangkala film nya lebih menarik dari buku cerita nya, atau sebaliknya, keduanya saling melengkapi.
Usai acara diskusi dilanjutkan dengan pemutaran film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang menarik perhatian penonton karena menggunakan dialog Ambon dalam keseluruhan film dan dipilihnya aktor-aktor muda berbakat asli Maluku untuk mengisi peran anak-anak yang ada. film tentang sepak bola ini juga mendapat penghargaan festival film Indonesia 2014 sebagai film terbaik. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Korban Pelecehan Seksual Syekh Ahmad Al Misry Diancam Fisik hingga Disogok Uang
-
Syekh Ahmad Al Misry Dilaporkan Kasus Pelecehan, Beasiswa Mesir Diduga Jadi Kedok Dekati Santri
-
Boiyen Akui Nafkahi Diri Sendiri Selama Menikah, Ini Alasan Gugat Cerai
-
Tak Tutupi Kehamilan Menantu, Eva Manurung Ungkap Jenis Kelamin Calon Anak Virgoun
-
Ogah Foto Gratisan, Pinkan Mambo Todong Fans Pakai Kantong Kresek: Duitnya Mana?
-
Syekh Ahmad Al Misry Terseret Kasus Pelecehan Sesama Jenis, Ini Kronologi dan Pengakuan Korban
-
Syekh Ahmad Al Misry Diduga di Mesir, Pengacara Korban Pelecehan Sejenis Desak Agar Dijemput
-
Shenina Cinnamon Opname saat Hamil karena Hyperemesis Gravidarum, Apa Itu?
-
Lagu Erika Viral karena Lecehkan Perempuan, HMT ITB Resmi Minta Maaf dan Tarik Konten
-
GIGI Akui Ada Perbedaan Pendapat dan Gesekan, Pastikan Thomas Ramdhan Batal Hengkang