Entertainment / Gosip
Sabtu, 10 Oktober 2020 | 07:30 WIB
Dian Sastrowardoyo (Sumarni/Suara.com)

Suara.com - Dian Sastrowardoyo mengadakan diskusi bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim dalam live Instagram. Salah satu pembahasannya mengenai perubahan sistem Ujian Nasional (UN).

"Bisa dijelaskan biar kita yang nggak ngerti lebih jelas ya kira-kira mas Nadiem. Kira-kira kalau UN diserahkan ke sekolah, penerimaan murid berdasarkan zonasi. Terus terang ini awam banget," kata Dian Sastrowardoyo, Jumat (9/10/2020).

Nadiem Makarim menjelaskan UN layaknya diskriminasi nasional kepada siswa. Sebab acuannya hanya nilai tertinggi yang didapatkan untuk berada di sekolah favorit.

"Makanya meledak industri bimbel di seluruh Indonesia. Di mana yang lebih mampu membayar adalah orang yang ekonomi menengah ke atas," jawab Nadiem Makarim.

Mendikbud Nadiem Makarim. (YouTube)

Sementara mereka yang tidak mampu membayar les, menurut Nadiem, kerap mendapatkan nilai lebih kecil. Sehingga tak mendapat kesempatan duduk di sekolah favorit.

"Itu yang namanya diskriminasi nasional. Selama berpuluh-puluh tahun," terangnya.

Untuk itu kedepannya Nadiem Makarim bersama tim di Kemendikbud telah membuat program sebagai pengganti UN. Yaitu melaksanakan Asesmen Nasional.

"Tes itu bukan suatu hal yang bisa dihapal, dibimbelkan. Tapi mengukur kualitas pembelajaran," jelas Nadiem Makarim.

Ada tiga asesmen yang rencananya akan dilakukan. Pertama Asesmen Kompetensi, Survei Karakter dan Survei Lingkungan Sekolah.

Baca Juga: Dian Sastro Tanya Sekolah Kapan Dibuka, Jawaban Nadiem Makarim Mengejutkan

Kepada Dian Sastrowardoyo, Nadiem Makarim memaparkan, "Asesmen kompetensi adalah mengukur kemampuan nalar kita. Proses informasi yang didapat, bagaimana pemecahan masalah, dan kemampuan kita mengerti informasi, analisa."

Sementara survei karakter dilakukan untuk menanyakan kepada para siswa mengenai pelaksaan norma toleransi hingga gotong royong.

"Di survei lingkungan sekolah, kita akan mengukur seberapa besar peran sekolah dalam memfasilitasi aktivitas belajar," kata lelaki yang juga berprofesi sebagai pengusaha ojek online.

Nadiem Makarim menuturkan hasil itu akan menjadi raport siswa. "Tidak bisa digunakan untuk menghakimi," jelas lelaki 36 tahun ini.

Pihak sekolah pun juga bisa dievaluasi dengan program Asesmen Nasional.

"Angka itu menjadi raport sekolah, di mana kelemahan dan kekuatannya," kata Sang Menteri menandaskan.

Load More