Suara.com - Film animasi Merah Putih: One For All resmi tayang di bioskop sejak 14 Agustus lalu. Namun, bukannya menuai pujian, film ini justru memicu perdebatan panas di kalangan penonton.
Media sosial sempat heboh dengan trailer film garapan rumah produksi Perfiki Kreasindo itu, terutama karena anggaran produksinya disebut mencapai Rp6,7 miliar.
Sayangnya, kualitas animasi yang ditampilkan dinilai jauh dari ekspektasi. Banyak warganet yang menghujat dan membandingkannya dengan film animasi lokal Jumbo, bahkan di situs populer IMDb film ini juga habis-habisan dicerca.
Salah satu yang ikut angkat suara adalah artis Amel Carla. Melalui akun TikTok pribadinya, Amel mengunggah video bertajuk Amel Review yang berisi ulasan jujurnya setelah menonton film tersebut.
“Menurut gue nilainya adalah 3 out of 10. Yes, 3 out of 10. And I have my reasons, do you wanna know?” ujar Amel membuka videonya.
Kritik dari Amel Carla
Amel mengaku bukan animator, tetapi pecinta film animasi. Dalam ulasannya, ia menilai ada banyak hal yang membuat Merah Putih: One For All terasa kurang memuaskan.
Soal cerita, Amel menyebut alurnya tidak realistis. “Mereka tuh di desa, nyari bendera melewati hutan. Tapi 60%, atau bahkan 80% dari filmnya berada di hutan. Gue kira cuma lewat, ternyata benderanya ada di hutan,” tuturnya.
Dari sisi visual, ia juga menyoroti detail teknis animasi yang menurutnya kurang maksimal. “Walaupun ini animasi 3D, kurang banget ambient occlusion atau bayangan-bayangan di beberapa bagian animasi yang membuatnya lebih hidup,” jelas Amel.
Baca Juga: Ulasan Film Merah Putih: One For All, Niat Baik yang Tersandung Eksekusi!
Ia menambahkan bahwa sebagian besar pengambilan gambar terasa repetitif. “Menurut gue 90% dari animasi tersebut shot-nya adalah close up. Sampai ada beberapa bagian wajah yang kepotong. Masalahnya, jadi feel mereka ngobrol satu sama lain tuh bener-bener kurang banget,” katanya.
"Yang lucu, di beberapa scene mereka bersama—misalnya lagi jalan terus salah satu ada yang ngomong—mulutnya gak kebuka. Jadi kita bingung siapa yang ngomong," tambah Amel lagi.
Selain visual, Amel juga mengkritik aspek audio. Baginya, suara dialog kalah dengan musik latar yang terlalu keras.
“Back sound-nya kegedean. Kayak kalau kalian ngedit di CapCut, sound-nya ditaruh di 60–70%. Akhirnya dialognya jadi samar. Padahal lagunya enak, tapi kenceng banget. Kita nonton di bioskop biasa aja rasanya kayak IMAX,” ungkapnya.
Meski lebih banyak menyoroti kekurangan, Amel mengaku tetap menemukan satu momen yang menyenangkan, yakni saat seluruh penonton berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama di akhir film.
“Terutama di 5 menit terakhir sih. It’s so fun karena ada lagu Indonesia Raya. Kita satu studio berdiri, nyanyi bareng, dan pas selesai kita tepuk tangan juga,” katanya.
Ajakan Nonton dan Kritik Balik Netizen
Menariknya, meski memberi nilai rendah dan banyak kritik, Amel justru menutup videonya dengan ajakan agar masyarakat tetap menonton film tersebut.
“Menurut gue, kalau ini adalah salah satu cara kalian untuk memperingati ulang tahun Indonesia ke-80, hari kemerdekaan Indonesia ke-80, go ahead and watch it. Ajak orang-orang biar lebih meriah dan rame,” ujarnya.
Pernyataan ini langsung menimbulkan reaksi keras dari netizen. Alih-alih mendukung, mereka balik mengkritik Amel karena dianggap kontradiktif. Beberapa bahkan menudingnya sebagai buzzer film.
“Kaget bgt malah disuruh nonton, padahal para pembuat film/animasi nyuruh buat jangan nonton biar menghargai karya2 yg udah dibangun,” kata @gre****.
Akun @yup**** juga menulis, “Mel dengan rating 3/10, u still referring us to watch that movie only for ‘merayakan kemerdekaan’? Beneran?.”
“‘Tapi itu bukan masalah’. Engga Mel, keseluruhan filmnya jg masalah,” tambah @bas****.
“Hah? Sayang bgt sih kamu bikin VT ini, apalagi di akhir nyuruh buat nonton,” tulis @amp****.
Kontroversi ini membuat perdebatan soal Merah Putih: One For All semakin melebar. Bukan hanya kualitas film yang jadi sorotan, tapi juga sikap figur publik dalam memberikan ulasan yang dinilai membingungkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Viral Cewek Ingin Jadi LC, Langsung Dapat Nasihat Logis dan Menohok Ini
-
Piche Kota Bantah Tuduhan Asusila terhadap Anak di Bawah Umur, Siap Ikuti Proses Hukum
-
Viral Monyet Punch Dibully Monyet Lain, Pihak Kebun Binatang Angkat Suara
-
Sinopsis Sinetron 99 Nama Cinta, Samakah dengan Versi Film?
-
Review Marty Supreme, Film dengan 9 Nominasi Oscar yang Siap Tayang di Bioskop Indonesia
-
Sony Pictures Siap Garap Film Animasi Venom, Tom Hardy Jadi Produser
-
Buruan Serbu! Hari Terakhir Diskon 50 Persen Tiket Nonton di m.tix Spesial HUT BCA
-
Kisah Inspiratif Lipay Xia, dari Titik Terendah hingga Sukses di Dunia Cosplay dan E-Sport
-
Viral Video WNI di Jepang Ronda Sahur, Warganet Indonesia Ikut Minta Maaf
-
Kontroversi LPDP Berlanjut, Cindy Fatikasari Ungkap Pindah ke Kanada Tanpa Dana Negara