Entertainment / Film
Jum'at, 14 November 2025 | 19:15 WIB
Film Now You See Me: Now You Don't. (imdb)

Suara.com - Saya datang ke bioskop dengan ekspektasi cukup tinggi. Bukan setinggi berharap kelinci keluar dari topi, tapi setidaknya Four Horsemen kembali dengan trik yang membuat saya tersenyum sambil bergumam, "Oke, ini keren."

Namun setelah menonton Now You See Me: Now You Don't, film ketiga dalam franchise yang sudah berusia lebih dari satu dekade, saya pulang dengan perasaan campur aduk.

Antara terhibur, geli, tapi juga sedikit seperti habis nonton demo sulap di mall. Intinya, keren di awal, tapi lama-lama kelihatan benangnya.

Film ini membawa kita sepuluh tahun setelah aksi kedua Horsemen. Mereka kembali bukan hanya sebagai legenda hidup, tapi juga sebagai senior yang sebentar lagi perlu membuka kelas magang.

Review film Now You See Me: Now You Don't. [YouTube]

Masuklah trio pesulap baru yang semuany masih remaja; Charlie, Bosco, dan June.

Mereka seperti paket kombo, satu otak, dua wajah panggung, dan energi anak muda yang membuat Horsemen lama tampak seperti pensiunan.

Ajaibnya, dinamika mereka justru menyegarkan. Babak pertama menjadi bagian paling memikat.

Ruben Fleischer tampaknya paham bahwa penonton ingin melihat tipu muslihat rapi, dialog cepat, serta gesekan ego yang dibungkus kamera gesit.

Ilusi di kastil Prancis adalah bukti bahwa franchise ini masih punya taring, setidaknya untuk satu jam pertama.

Baca Juga: Inside Man: Perampokan yang Menampilkan Kejeniusan 3 Indvidu, Malam Ini di Trans TV

Generasi Baru, Energi Baru, Tapi Tak Bertahan Lama

Review Now You See Me: Now You Don't (imdb)

Setelah perkenalan segar antara Horsemen lama dan trio baru, film ini sebenarnya punya modal kuat untuk melaju mulus.

Tetapi entah siapa yang tiba-tiba menekan tombol fast-forward, ritmenya mendadak kacau.

Plot terasa terburu-buru seperti dikejar deadline, beberapa adegan terpotong sebelum sempat bernapas, dan karakter kehilangan ruang berkembang.

Jika dulu franchise ini dikenal sebagai puzzle rapi penuh twist elegan, kini lebih mirip tumpukan trik-tempelan, masih menghibur, tapi kurang rapat.

Ilusi dan heist yang biasanya menjadi "jualan utama" justru terasa kurang kuat. Ada momen menyenangkan, tetapi sebagian besar trik terlalu mengandalkan hingar-bingar ketimbang kecerdikan.

Villain yang Kurang Menggigit

Review Now You See Me: Now You Don't (imdb)

Masalah terbesar film ini adalah antagonisnya. Rosamund Pike, yang biasanya cukup menaikkan alis saja sudah bisa mengintimidasi satu ruangan, di sini tampil biasa saja.

Karakternya tidak jahat, hanya tampak sibuk sendiri. Padahal latar belakang keluarganya sudah meyakinkan.

Motivasi samar, kehadiran kurang berbahaya, dan saat konfrontasi final tiba, saya sempat bertanya dalam hati, "Dia ini villain utama atau sekadar atasan rewel sih?"

Tanpa ancaman yang jelas, tensi film ikut melempem. Dan reveal akhirnya, yang biasanya menjadi ciri khas franchise, justru lebih terasa biasa saja, kurang wow.

Enggak buruk sih, hanya kurang greget, sehingga akan mudah terlupakan.

Masih Menghibur, Meski Tidak Sempurna

Review film Now You See Me: Now You Don't. [YouTube]

Terlepas dari kekurangannya, saya tidak bisa mengatakan Now You See Me: Now You Don't sepenuhnya gagal. Ada pesona yang tetap terjaga.

Chemistry para pemain, baik angkatan lama maupun angkatan baru, masih mengandung kehangatan dan humor yang sesekali tepat sasaran.

Beberapa trik besar, meski tidak brilian, tetap berhasil memberi sensasi, "Oh, begitu ternyata."

Jika dua film pertama adalah pertunjukan kelas premium, film ketiga ini adalah versi yang meriah, sedikit berlebihan, tapi tetap menghibur kalau datang dengan ekspektasi yang tidak terlalu tinggi.

Untuk penggemar franchise, film ini masih layak dinikmati. Untuk pendatang baru, mungkin sensasinya seperti ikut reuni tanpa mengenal siapa pun.

Dan ya, meski banyak kekurangan, kalau film keempat diumumkan, pasti banyak yang akan tetap menontonnya.

Karena seperti menonton sulap, meski kadang trik-triknya ketebak, kita tetap datang untuk melihat apakah kali ini mereka bisa membuat kita percaya lagi.

Kontributor : Chusnul Chotimah

Load More