- Kesuksesan komersial Jumbo (Visinema) dan rencana Pelangi di Mars (Mahakarya Pictures/PFN) menandai pergeseran fokus sineas.
- Pelangi di Mars mengambil terobosan dengan menggabungkan live-action dan animasi 3D menggunakan teknologi Unreal Engine, menunjukkan ambisi untuk menciptakan idola anak-anak asli Indonesia yang setara standar global
- Kedua proyek tersebut menekankan pentingnya riset mendalam, kesabaran (perencanaan Jumbo selama tujuh tahun), serta melibatkan ratusan talenta lokal untuk memastikan kualitas produk dapat bersaing di pasar internasional
Mereka menyadari bahwa selama ini, pasar hiburan anak didominasi oleh karakter impor seperti Doraemon dari Jepang atau pahlawan super dari Amerika Serikat.
"Kami melihat IP dari Korea, Amerika, atau Jepang itu tumbuh bersama generasinya. Nah, kita memang membayangkan itu yang mau kita coba tawarkan. Kita harap anak-anak Indonesia bisa tumbuh besar bersama IP asli Indonesia," ujar Dendi Reynando dalam konferensi pers peluncuran teaser trailer film tersebut.
Keterlibatan Perum Produksi Film Negara (PFN) dalam proyek Pelangi di Mars juga menjadi indikator penting. Direktur Utama PFN, Rivan Fajarsyah alias Ifan Seventeen, menyebut bahwa dukungan negara hadir karena proyek ini dianggap merepresentasikan masa depan industri.
"Industri perfilman Indonesia di 2024 sedang sunrise. Tapi Pelangi di Mars ini beda. Ini melambangkan masa depan industri film Indonesia. Film ini merealisasikan ide seliar apapun dari sutradara," ungkap Ifan.
Berkolaborasi dengan Ratusan Talenta Bangsa
Satu benang merah yang menghubungkan kesuksesan Jumbo dan potensi Pelangi di Mars adalah keseriusan dalam manajemen "dapur" produksi. Kedua rumah produksi ini tidak bekerja sendirian.
Angga Sasongko menekankan bahwa untuk menciptakan IP raksasa, dibutuhkan tim yang kuat dan kesabaran ekstra.
Visinema bahkan merekrut ahli-ahli berpengalaman di industri IP dalam lima tahun terakhir untuk memperkuat struktur perusahaan mereka.
"Selama tujuh tahun kami enggak hanya bikin, tapi sembari belajar. Kita lihat kanan-kiri, banyak baca buku, banyak datang ke event di seluruh dunia. Great things take time," tutur Angga.
Baca Juga: 7 Film Anime Ini Lolos Syarat untuk Nominasi Oscar, Ada Chainsaw Man!
Senada dengan itu, tim Pelangi di Mars juga melakukan riset panjang sejak 2020. Mereka melibatkan lebih dari 200 kru lokal, termasuk animator dan teknisi dari berbagai daerah, untuk memastikan kualitas visual film ini setara dengan standar internasional.
Alim Sudio, penulis skenario Pelangi di Mars, menambahkan bahwa narasi yang dibangun juga harus memperkuat posisi Indonesia.
"Ide yang saya beli adalah, Di Mars itu ada robot-robot dari bangsa lain, tapi pemimpinnya Pelangi (anak Indonesia). Jadi kalau film ini mendunia, Indonesia memimpin untuk menemukan solusi bagi bumi," kata Alim.
Masa Depan Cerah Animasi Lokal
Dari dua proyek ini, dapat disimpulkan bahwa masa depan film animasi di Indonesia sangat menjanjikan. Pasar domestik telah terbukti siap dan antusias menerima karya lokal, sebagaimana ditunjukkan oleh rekor penonton Jumbo.
Kuncinya kini terletak pada konsistensi para kreator untuk tidak hanya fokus pada penjualan tiket bioskop, tetapi membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
Pergeseran fokus dari "membuat film" menjadi "mengembangkan IP" akan menjadi katalis utama yang menjaga napas industri ini tetap panjang.
Dengan adanya kolaborasi antara visi kreatif yang liar, kematangan manajemen bisnis, dukungan teknologi mutakhir, serta keberpihakan pemerintah, Indonesia kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan mungkin menjadi pemain utama di kancah global dalam satu dekade mendatang.
Berita Terkait
-
Perbandingan Spesifikasi Infinix Hot 70 vs Tecno Spark 50, Duel HP Murahh Baterai Jumbo
-
Review Boboiboy Movie 2: Definisi Masterpiece Animasi yang Melampaui Ekspektasi!
-
Bedah Spesifikasi Vivo T5, HP Rp 3 Jutaan dengan Baterai Raksasa 7.200 mAh
-
Publik Kecewa, Sutradara Tolak Mentay-Mentah Ide Garap Sekuel Ratatouille
-
Mengurai Surat Cinta Sinema yang Tersirat dalam Film Minions & Monsters
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Nggak Perlu Lagi Maraton Film Berjam-jam, Inilah Tren Drama Pendek yang Bikin Nagih
-
Profil Fangfang Istri Vicky Prasetyo yang Ramai Menjadi Sorotan
-
3 Dekade Menghibur, Project Pop Siap Guncang Jakarta Lewat Konser Forever Young Forever Fun
-
Promotor Ungkap Konsep Fan Meeting Win Metawin di Jakarta, Dibuat Lebih Intim dan Eksklusif
-
Padi Reborn Bawa 'Momen Sakral' Konser Dua Delapan ke Layar Lebar: Siap-Siap Merinding!
-
Gaia Music Festival 2026 Ajak Penonton Menikmati Musik di Tengah Alam Bandung
-
Sinopsis Film Anak-Anak Bambu, King Faaz Siap Beri Kejutan
-
Target 3 Juta Penonton di Film "402 Rumah Sakit Angker Korea", Simak Plot Twist Tak Terduga!
-
Givri Taj Cerita Transformasi Lewat Operasi Plastik di Vietnam, Sedot Lemak hingga Fat Grafting
-
402 Rumah Sakit Angker Korea Gelar Premiere di Korea, Dapat Sambutan Hangat dari Penonton BIFAN 2026