Entertainment / Film
Selasa, 13 Januari 2026 | 21:15 WIB
Poster film Penunggu Rumah: Buto Ijos siap tayang di bisokop pada 15 Januari 2026. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Sutradara Achmad Romie Baraba mentransformasi Buto Ijo menjadi teror psikologis dalam film terbarunya, Penunggu Rumah: Buto Ijo.
  • Film ini menyajikan horor investigatif, fokus pada konflik manusia dan konsekuensi janji diingkari, bukan sekadar monster visual.
  • Penunggu Rumah: Buto Ijo dijadwalkan tayang di bioskop-bioskop pilihan mulai tanggal 15 Januari 2026 mendatang.

Suara.com - Sosok Buto Ijo selama ini dikenal sebagai raksasa hijau dalam dongeng pengantar tidur yang menakutkan bagi anak-anak.

Namun, di tangan sutradara Achmad Romie Baraba, mitologi kolektif masyarakat Indonesia ini bertransformasi menjadi teror psikologis yang nyata dan menekan melalui film terbarunya, Penunggu Rumah: Buto Ijo.

Bagi Romie, ketertarikannya menggarap film ini berakar dari kedekatan sosok Buto Ijo dengan konsep rumah dan keluarga.

Ia memandang Buto Ijo bukan sekadar monster visual, melainkan simbol ancaman yang perlahan merayap masuk ke dalam ruang paling privat manusia: tempat tinggal mereka sendiri.

"Sosok Buto Ijo adalah simbol yang sangat dekat dengan ingatan kita. Ia mewakili rasa aman yang perlahan berubah menjadi ancaman," kata Romie.

Achmad Romie Baraba sutradara film Penunggu Rumah: Buto Ijo. [Instagram]

Sejak pertama kali menerima naskah dari Gandhi Fernando, Romie sudah memiliki visi yang jelas.

Ia ingin menyuguhkan horor yang tidak hanya mengandalkan penampakan mengejutkan, tetapi juga kedalaman emosional.

Penunggu Rumah: Buto Ijo hadir dengan pendekatan horor investigatif, di mana kengerian tumbuh dari situasi, konflik antarmanusia, dan atmosfer lokasi yang mencekam.

Bersama Gandhi Fernando, Romie mengolah esensi cerita rakyat ini ke dalam konteks modern.

Baca Juga: Aulia Sarah Jadi Bidan Ketiban Sial, Film Sengkolo Petaka Satu Suro Kuras Emosi

Fokusnya bukan lagi sekadar raksasa yang mengejar mangsa, melainkan tentang janji yang diingkari, ketamakan, dan konsekuensi pahit dari pilihan hidup manusia.

"Sumber horornya tidak hanya datang dari makhluknya, tetapi juga dari dampak pilihan-pilihan yang diambil oleh karakter di dalamnya," imbuh sang sutradara.

Berbeda dengan film horor pada umumnya yang kerap mengandalkan suara bising untuk mengejutkan penonton, Romie memilih jalur yang lebih menantang.

Ia menjaga ritme film agar tetap tenang namun memberikan tekanan yang konsisten, sebuah pendekatan yang ia sebut bukan sekadar slow burn, melainkan teror yang membayangi.

Hal ini juga menuntut akting yang luar biasa dari Gandhi Fernando yang memerankan karakter Ali.

Gandhi ditantang untuk menampilkan ketakutan yang tertahan dan internal, memberikan kesan bahwa ancaman tersebut nyata meski tidak selalu terlihat.

Load More