- Film original Netflix Secrets adalah drama thriller garapan Ravi Bharwani yang mengangkat isu resiliensi perempuan dan bayang-bayang masa lalu mantan pekerja seks.
- Sha Ine Febriyanti dan Abimana Aryasatya dipilih sebagai pemeran utama karena dinilai memiliki kemampuan akting teknis dan emosional yang matang untuk karakter yang kompleks.
- Film ini menonjolkan kekuatan visual dan rasa dibandingkan dialog, dengan proses pengembangan naskah serta artistik yang mendetail selama hampir tiga tahun.
Suara.com - Bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik kebahagiaan masa kini menjadi benang merah film original Netflix Indonesia terbaru garapan sutradara Ravi Bharwani.
Dalam acara Next On Netflix yang digelar di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Januari 2026, Ravi membeberkan visi kreatif di balik film bergenre drama thriller yang untuk sementara berjudul Secrets.
Tak sekadar menjual ketegangan, film ini diposisikan sebagai studi karakter yang emosional lewat duet Sha Ine Febriyanti dan Abimana Aryasatya.
Ravi secara terbuka mengungkap bahwa Secrets akan menyelami lapisan kehidupan yang jarang disentuh, dengan pendekatan visual yang kuat dan dialog yang sangat selektif.
Mengulik Masa Lalu yang Gelap
Berbeda dari drama keluarga pada umumnya, Ravi memilih memberi latar belakang yang tidak sederhana bagi karakter utama.
Sosok ibu yang diperankan Sha Ine Febriyanti digambarkan memiliki masa lalu keras sebelum akhirnya membangun kehidupan rumah tangga yang tampak tenang.
"Awalnya dia (tokoh yang diperankan Sha Ine) itu sebagai pekerja seks. Lalunya dia itu mempunyai hubungan khusus dengan Abi, lalu berumah tangga," ujar Ravi kepada awak media.
Ketenangan tersebut tak bertahan lama. Masa lalu yang sempat terkubur kembali muncul dan menciptakan konflik psikologis yang menekan.
Baca Juga: Sinopsis Champagne Problems, Film Romcom Netflix Terbaru Tayang 19 November 2025
Ravi menekankan bahwa jarak waktu 15 tahun dalam cerita menjadi kunci penting dalam pengembangan karakter.
"Setelah 15 tahun itu bertemu lagi. Dan ini ada persinggungan yang lumayan alot dan menegangkan," terangnya.
"Selama 15 tahun ini tokoh utama mengalami perubahan emosi yang beda-beda. Nah, bagaimana setiap momen dan setiap setting itu bisa diekspresikan," tambah Ravi.
Casting yang Tak Bisa Kompromi
Dengan kompleksitas peran seperti itu, Ravi mengaku tak bisa sembarangan memilih pemeran. Nama Sha Ine Febriyanti bahkan sudah terkunci sejak awal, jauh sebelum naskah selesai ditulis.
"Sebelum skrip jadi pun, sudah lobbying dulu sama Ine. Karena filmnya lumayan menantang," tutur Ravi.
'Dari awal kita sudah pilih Ine, mesti hanya Ine yang bisa mainin. Bahkan waktu dikasih sinopsis saja, dia sudah tertarik," sambungnya.
Tantangan justru muncul saat mencari pemeran pria. Ravi membutuhkan aktor yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang secara emosi dan teknis. Pilihan akhirnya jatuh kepada Abimana Aryasatya.
"Nyari aktor yang cocok dan mau memerankan ini juga lumayan susah. Kalau aktor laki-laki itu harus lengkap, fisik, teknikal, dan emosi. Aktor action bisa main, tapi yang bisa akting bagus itu sedikit. Yang benar-benar paket lengkap, susah dicari," jelasnya.
Resiliensi Perempuan sebagai Inti Cerita
Meski dikemas sebagai thriller, Ravi menegaskan bahwa inti film ini adalah tentang ketangguhan perempuan. Inspirasi tersebut datang dari pengamatannya terhadap lingkungan sekitar yang mayoritas diisi perempuan.
Sang sutradara lalu membandingkan cara perempuan dan laki-laki menghadapi krisis hidup, terutama dalam konteks keluarga.
"Tingkat resiliensinya malah lebih tinggi dibanding laki-laki. Ketika perempuan menderita, ditinggal suami, ditinggal keluarga, atau harus ngidupin anak, dia punya waktu sebentar untuk menderita. Tapi besoknya dia harus bangkit lagi, ngurus anak lagi," terang Ravi.
CKalau laki-laki kadang-kadang bisa ninggalin anak. Maaf ya kalau laki-laki. Tapi di sini tanggung jawab perempuan itu kelihatan jauh lebih tinggi," lanjut dia.
Semangat untuk bertahan dan bangkit inilah yang ingin Ravi sampaikan ke penonton.
Bicara Lewat Rasa, Bukan Kata
Dialog yang selektif menjadi ciri khas Ravi Bharwani yang kembali dipertegas di film ini. Dia memilih menyampaikan emosi lewat bahasa tubuh, suasana, dan visual, bukan lewat percakapan panjang.
"Banyak film sekarang terlalu mengandalkan dialog. Padahal emosi itu bisa disampaikan lewat rasa," ujarnya.
Dia pun memberi analogi sederhana soal bagaimana perasaan seharusnya divisualkan di layar.
"Sakit perut itu, kalau cuma bilang 'saya sakit perut', itu kan kata-kata. Tapi tugas sutradara itu bagaimana mengkomunikasikan rasa sakit itu lewat visual, supaya penonton ikut merasakan,” jelas Ravi.
Pendekatan tersebut didukung oleh tim artistik yang sangat detail. Ravi bahkan menyebut timnya "rewel" soal warna, tekstur, hingga detail usia karakter di tiap fase kehidupan.
"Tim artistiknya rewel. Warnanya harus begini, teksturnya harus begini. Sampai kadang-kadang mereka turun tangan sendiri buat di-aging, dirapihin lagi," kenangnya.
Didukung Penuh Netflix
Mengangkat tema sensitif seputar dunia prostitusi dan sisi gelap keluarga sempat membuat Ravi ragu apakah proyek ini akan diterima. Namun respons Netflix justru di luar dugaan.
"Saya sempat mikir, tema dunia hitam ini kok kayaknya susah jualan ya. Tapi waktu diajukan, ternyata mereka oke. Bukan cuma menerima, malah mendukung," ujar Ravi.
Diproduksi bersama Buddy Buddy Pictures, film ini melalui proses pengembangan yang panjang. Ravi menyebut total waktu yang dihabiskan hampir tiga tahun.
"Penulisan saja sekitar 1,5 tahun. Development bisa enam bulan sampai setahun. Totalnya mungkin 2,5 sampai tiga tahun," imbuhnya.
Dengan persiapan matang, pendekatan visual yang kuat, dan tema yang emosional, film drama thriller ini diproyeksikan menjadi salah satu sajian Netflix Indonesia paling intens dan menggugah pada 2026.
Berita Terkait
-
Deretan Line-up Tayangan Original Netflix Indonesia 2026, Cerita Lokal Makin Berani
-
Novel The Magician, Perjalanan Nicholas, Sophie, dan Josh di Kota Cahaya
-
Anime Secrets of the Silent Witch Resmi Diumumkan, Tayang Tahun Ini
-
Kocak Abis! Go Kyung Pyo Perankan Karakter 'Cowok Prik' di Drama Korea No Secrets
-
Go Kyung Po Comeback, Siap Jadi Pria Paling Jujur di Drama 'No Secrets'
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Sinopsis Euphoria Season 3: Menata Kembali Kehidupan Rue hingga Ambisi Cassie Jadi Model OnlyFans
-
Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo Rilis 'SpeakUp AI', Biar Kamu Jago Public Speaking
-
Deretan Line-up Tayangan Original Netflix Indonesia 2026, Cerita Lokal Makin Berani
-
Penjelasan Ending Made In Korea, Lanjut Season 2?
-
Rieke Diah Pitaloka Emosi Bahas Kasus Aurelie Moeremans di DPR, Minta Diusut Serius
-
Chat Ammar Zoni Dibongkar, Minta Plastik Klip ke Pacar Diduga buat Narkoba
-
Nikita Willy Akui Pernah Minta Ganti Lawan Main, Benarkah Aurelie Moeremans?
-
Lagi Terseret Kasus Hukum, Suami Boiyen Tegaskan Sudah Bikin Perjanjian Pranikah
-
Ammar Zoni Desak Hakim Putar CCTV, Ada Bukti Video Polisi Bawa Alat Setrum Saat Interogasi
-
Ammar Zoni Ngaku Disuruh Bikin Surat Pengakuan Jual Narkoba di Rutan