Entertainment / Film
Senin, 19 Januari 2026 | 21:15 WIB
Bukan sekadar sci-fi biasa, film Esok Tanpa Ibu jadi refleksi hubungan manusia dan alam. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Film drama keluarga fiksi ilmiah berjudul Esok Tanpa Ibu tayang serentak pada 22 Januari 2026 di bioskop nasional.
  • Produksi ini kolaborasi BASE Entertainment, Beacon Films, Refinery Media, dan disutradarai oleh Wi Ding Ho.
  • Cerita film ini mengeksplorasi filosofi hubungan antara sosok Ibu, Kecerdasan Buatan (AI), dan Ibu Pertiwi.

Suara.com - Awal 2026 menjadi momen penting bagi industri perfilman nasional dengan hadirnya film drama keluarga berbalut fiksi ilmiah, Esok Tanpa Ibu (judul internasional: Mothernet).

Film yang dijadwalkan tayang serentak pada 22 Januari 2026 ini bukan sekadar menyajikan kecanggihan teknologi masa depan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan duka.

Dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Januari 2026, para sineas di balik layar dan pemain utama membedah lapisan-lapisan filosofis yang membangun cerita ini.

Film ini merupakan kolaborasi ambisius antara BASE Entertainment, Beacon Films (rumah produksi milik Dian Sastrowardoyo), dan Refinery Media dari Singapura, serta disutradarai oleh sineas Malaysia, Wi Ding Ho.

Filosofi Segitiga: Ibu, AI, dan Ibu Pertiwi

Dian Sastrowardoyo bertindak sebagai aktris dan produser dalam film Esok Tanpa Ibu. Sementara dalam film tersebut, Dian memerankan dua tokoh sekaligus. [Tiara Rosana/Suara.com]

Salah satu aspek paling menarik dari Esok Tanpa Ibu adalah pendekatannya yang unik terhadap teknologi. 

Penulis skenario Gina S. Noer mengungkapkan bahwa naskah film ini digarap sejak masa pandemi 2020, masa di mana teknologi menjadi jembatan sekaligus tembok bagi keluarga yang terkurung di rumah.

Gina menekankan bahwa bicara soal AI di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari konteks lingkungan.

Ada filosofi mendalam yang mengikat tiga elemen utama dalam film ini.

Baca Juga: Suami Orang Padang, Hanggini Merasa Tertantang Perankan Gadis Minang di Film Sadali

"Ketika kita bicara soal duka, ini mengikat satu tema antara Ibu (sosok ibu kandung), 'i-BU' (AI), dan Ibu Pertiwi (Ibu Bumi). Bagaimana kedekatan kita dengan salah satu elemen dari tiga hal itu akan punya tarik menarik satu sama lain," kata Gina S. Noer kepada awak media.

Hal ini diperkuat oleh Dian Sastrowardoyo yang memerankan karakter Ibu Laras sekaligus bertindak sebagai produser. 

Ringgo Agus Rahman mengaku mencurahkan segenap emosi saat bermain dalam film Esok Tanpa Ibu. [Tiara Rosana/Suara.com]

Dian menjelaskan keputusan visual film yang didominasi palet warna hijau, bukan warna metalik atau neon seperti film futuristik pada umumnya.

"Itu keputusan dari DOP (Director of Photography) dan Production Designer. Mereka menemukan kalau ada 'Ibu', dia ingin ada unsur warna hijau karena Ibu itu yang paling dekat dengan alam. Film ini membicarakan pendekatan manusia dengan alam dan teknologi," ujar Dian.

Adegan kuncup bunga yang tumbuh di tanah gersang dalam film pun memiliki makna simbolis tentang harapan dan cinta seorang ibu yang mampu menjaga kehidupan di tengah kerusakan dunia.

Ringgo Agus Rahman Sentil Peran Ayah: Ujian Sesungguhnya Itu di Rumah

Load More