Entertainment / Gosip
Jum'at, 20 Februari 2026 | 16:48 WIB
Viral Penerima LPDP ini Terharu Anaknya Jadi WNA (x.com/@blaugrana1O)
Baca 10 detik
  • Dwi Sasetyaningtyas dihujat warganet setelah mengunggah rasa syukur atas paspor Inggris anaknya dan menyebut cukup dirinya saja yang menjadi WNI.
  • Ia meminta maaf secara terbuka dan mengakui bahwa pernyataannya muncul karena rasa lelah serta frustrasi pribadi terhadap kondisi di Indonesia.
  • Meski sempat melontarkan kalimat yang dianggap merendahkan identitas negara, penerima beasiswa LPDP ini menyatakan tetap mencintai dan ingin berkontribusi bagi Indonesia.

Suara.com - Dwi Sasetyaningtyas kini menjadi pusat perhatian warganet. Hal ini bermula dari unggahan videonya yang mengungkapkan rasa syukur karena anaknya resmi menjadi warga negara Inggris.

Situasi semakin memanas karena pernyataan Dwi yang menyebut, "Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan." Kalimat tersebut sontak memicu kritik tajam dan hujatan dari publik.

Menanggapi kegaduhan tersebut, Dwi akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis, 19 Februari 2026.

"Terkait unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat 'cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan', saya ingin memohon maaf kepada publik," tulisnya.

Perempuan yang menempuh studi di Inggris ini menjelaskan bahwa ucapannya didasari oleh luapan emosi sesaat. Ia mengaku saat itu tengah merasa kecewa dan lelah dengan berbagai kondisi yang ia alami sebagai Warga Negara Indonesia.

Dwi menyadari bahwa caranya menyampaikan rasa frustrasi tersebut kurang pantas. Ia mengakui ucapannya berpotensi melukai rasa nasionalisme masyarakat dan bisa dianggap merendahkan identitas bangsa.

Namun, melalui klarifikasi tersebut, Dwi juga menegaskan komitmennya untuk tetap mengabdi. "Saya mencintai Indonesia dengan segala harapan dan tantangannya. Saya berharap tetap bisa berkontribusi untuk tanah air," tuturnya.

Sebelumnya, video Dwi viral karena ia secara terang-terangan mengusahakan agar anak-anaknya memiliki "paspor kuat" sebagai warga negara asing demi masa depan yang menurutnya lebih adil.

Isu ini menjadi sangat sensitif karena status Dwi sebagai penerima beasiswa LPDP. Banyak pihak menyentil etikanya, mengingat pendidikannya dibiayai oleh uang pajak rakyat Indonesia.

Baca Juga: Polemik Paspor Asing: Refleksi Nasionalisme atau Krisis Kepercayaan?

Salah satu komentar di media sosial menyindir, "Jika lulusan LPDP akhirnya hanya menghina negara sendiri dan membanggakan negara lain, itu sangat memalukan.

Load More