Entertainment / Film
Selasa, 07 April 2026 | 20:40 WIB
Konferensi pers film The Bell: Panggilan untuk Mati di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Selasa, 7 April 2026 [Suara.com/Tiara Rosana].
Baca 10 detik
  • Film ini mengangkat urban legend Penebok (hantu tanpa kepala) dan mitos lonceng keramat dari Belitung ke layar lebar.
  • Sutradara menggunakan tiga aspek rasio berbeda untuk menggambarkan tiga periode waktu sejarah kolonial yang mencekam.
  • Para aktor melakukan riset mendalam, termasuk menguasai dialek Belitung dan bahasa Belanda demi menjaga otentisitas cerita.

Suara.com - Rumah produksi Sinemata Buana Kreasindo resmi meluncurkan trailer dan poster utama film horor terbaru mereka, The Bell: Panggilan untuk Mati.

Film ini mengangkat mitos lokal asal Belitung, Penebok, yakni sosok hantu tanpa kepala yang kini diproyeksikan menjadi ikon teror baru di industri perfilman nasional.

Misi Mengangkat Folklore Belitung

Produser Eksekutif, Budi Yulianto, mengungkapkan bahwa ide cerita film ini berakar dari pengalamannya sebagai putra daerah Belitung.

Dia terinspirasi dari suasana mistis di kawasan Bukit Samak, Manggar, yang merupakan peninggalan era kolonial Belanda.

Budi menyebut Penebok bukan sekadar mitos, melainkan cerita rakyat yang hidup secara turun-temurun untuk memperingatkan anak-anak agar tidak bermain terlalu jauh ke dalam hutan.

"Kami ingin mengangkat urban legend dari masyarakat Belitung ke kancah nasional. Sejak kecil, anak-anak di sana selalu diperingatkan agar tidak main terlalu jauh ke hutan kalau tidak mau diambil oleh Penebok. Kami melalui proses riset yang panjang untuk mengaitkan legenda ini dengan sejarah masa kolonial," kata Budi dalam konferensi pers di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Selasa, 7 April 2026.

Sejalan dengan visi tersebut, produser Aris Muda Irawan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan sesuatu yang segar di tengah tren horor yang didominasi kuntilanak dan pocong.

Fokus cerita terletak pada misteri lonceng keramat dan tabu lokal di Belitung yang melarang membunyikan lonceng setelah pukul 18.00 WIB.

Baca Juga: Terlalu Menakutkan bagi Anak-anak, Pemprov DKI Jakarta Copot Iklan Film Horor di Ruang Publik

"Hantunya apa? Penebok. Teman-teman mungkin belum tahu, tapi melalui film ini kami ingin menjadikannya ikon horor baru yang populer. Ada tabu nyata di Belitung, yakni dilarang membunyikan lonceng setelah pukul 6 sore. Inilah yang kita hadirkan sebagai khasanah mitologi horor nasional," jelas Aris Muda.

Pendekatan Teknis dan Kedalaman Cerita

Sutradara Jay Sukmo membawa pendekatan teknis yang jarang ditemukan dalam film horor lokal. Untuk menggambarkan tiga periode waktu yang berbeda dalam cerita, ria menggunakan tiga aspek rasio gambar, yakni 2.39:1 (layar lebar), 4:3, dan 16:9.

Jay menekankan bahwa teror dalam The Bell tidak dibangun lewat jump scare visual semata, melainkan melalui atmosfer dan situasi emosional yang mencekam.

"Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment-treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya," beber Jay Sukmo.

Penulis naskah, Priesnanda Dwi Satria, menambahkan bahwa meskipun ini adalah proyek horor pertamanya, dia memastikan pondasi cerita tetap memiliki unsur drama, romansa, dan hubungan keluarga yang kuat.

Dia mengaku menumpahkan segala ketakutan pribadinya ke dalam naskah tersebut setelah melakukan riset mendalam langsung di lokasi kejadian.

Totalitas Pemeran dan Tantangan Dialek

Para pemeran utama menghadapi tantangan besar untuk menghidupkan karakter mereka, terutama dalam penguasaan dialek Belitung dan bahasa Belanda.

Givina Lukita, yang memerankan tokoh Saida, mengaku harus mempelajari bahasa Belitung secara intens selama 24 jam dengan bantuan Zulfani Pasha, aktor pemeran Ikal dalam film Laskar Pelangi.

"Saida adalah cewek berpenampilan sangat strong yang punya banyak cinta, tapi ditunjukkan dengan tough love atau act of service. Saya tidak mau mempresentasikan penduduk asli Belitung dengan setengah-setengah, makanya saya ngulik bahasa mereka 24 jam demi deliver hati dari film ini," ungkap Givina.

Sementara itu, Bhisma Mulia memerankan Danto, cucu dari Tok Baharun yang memikul beban besar sebagai pewaris ilmu mistis. Bhisma menggambarkan ketegangan film ini muncul dari situasi terisolasi.

"Karakter Danto ini sebenarnya 'green flag', dia setia dan berusaha memenuhi tanggung jawab besar sebagai pewaris terakhir ilmu kakeknya," tambahnya.

Aktor senior Mathias Muchus yang berperan sebagai dukun bernama Tok Baharun memberikan testimoni positif setelah menyaksikan cuplikan film. Dia menyebut suara lonceng dalam film ini sebagai bentuk teror psikologis yang nyata.

"Suara lonceng itu adalah teror. Jujur, dari sekian banyak film saya yang mengantre di bioskop, ini satu-satunya film yang paling saya naikkan ke Grade A. Ada hikmah dan filosofi mendalam di balik seremnya film ini," tegas Mathias Muchus.

Eksplorasi Sejarah Lewat Karakter Isabella

Pemeran utama lainnya, Shalom Razade, memiliki peran krusial yang berada di lini masa berbeda. Anak aktris Wulan Guritno ini berperan sebagai Isabella, seorang aktivis pada zaman penjajahan Belanda yang berjuang membela hak-hak pribumi.

Shalom menjelaskan bahwa riset untuk peran ini sangat berbeda karena dia harus mempelajari etika, cara berjalan, hingga cara berbicara masyarakat era kolonial.

"Challenge terbesar tentu di bahasa. Isabella adalah seorang aktivis yang membela hak-hak pribumi pada masa yang berbeda dengan karakter lain. Jadi timeline aku berbeda dengan cast yang lainnya. Aku harus belajar bahasa Belanda dan bahasa Belitong juga. Challenge utamanya adalah gerak-gerik dan bahasa," tutur perempuan 27 tahun tersebut.

Dia menambahkan bahwa di masa lalu, orang berbicara dengan tata cara yang lebih sungkan dan tidak blak-blakan seperti sekarang.

Untuk mendalami peran tersebut, Shalom melakukan riset dengan menonton film-film berlatar zaman dulu serta berdiskusi dengan orang-orang yang memahami budaya pada periode tersebut.

Sebagai informasi, The Bell: Panggilan untuk Mati mengisahkan tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat.

Malapetaka dimulai ketika sekelompok YouTuber yang terdiri dari Denny (Nabil Lungdana) dan kakaknya, Airin (Ratu Sofya), mencuri lonceng tersebut demi konten.

Tindakan tersebut tanpa sengaja membebaskan Penebok, entitas mengerikan bergaun merah tanpa kepala. Teror mulai menyebar ke seluruh warga desa, di mana setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian bagi siapa pun yang mendengarnya. Sosok Penebok akan datang untuk menagih kepala korbannya sebagai korban pengganti.

Film hasil kolaborasi Sinemata Buana Kreasindo dan MBK Productions ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 7 Mei 2026.

Pihak produksi berharap film ini tidak hanya memberikan rasa takut, tetapi juga meningkatkan kembali minat pariwisata di Pulau Belitung melalui visual alamnya yang masih murni.

Tag

Load More