Entertainment / Film
Rabu, 08 April 2026 | 06:30 WIB
Atta Halilintar ditemui di Senayan, Jakarta Pusat pada Selasa, 7 April 2026 [Suara.com/Rena Pangesti]
Baca 10 detik
  • Film legendaris Garuda di Dadaku hadir kembali dalam format animasi yang mengisahkan perjuangan Putra, remaja 13 tahun, mengejar mimpi menjadi pemain Timnas.
  • Atta Halilintar menjadi produser eksekutif karena merasa karakter utama mewakili cita-cita masa kecilnya dan mayoritas anak laki-laki di Indonesia.
  • Sutradara Ronny Gani ingin menginspirasi anak-anak agar berani bermimpi setinggi mungkin meskipun harus menghadapi berbagai tantangan besar.

Suara.com - Kabar gembira datang bagi pecinta film Tanah Air, khususnya genre animasi keluarga. Film legendaris Garuda di Dadaku kini hadir kembali dalam versi animasi.

Film Garuda di Dadaku versi animasi mengisahkan perjalanan hidup anak laki-laki bernama Putra yang berusia 13 tahun.

Ia memiliki cita-cita untuk berseragam Merah Putih di lapangan hijau sebagai pemain tim nasional.

Perjuangan Putra (Keanu Azka) tidaklah mudah karena sempat menemui kegagalan. Namun, kehadiran sosok Gaga (Kristo Immanuel) mengubah hidupnya dan membantunya menemukan kembali keberanian yang sempat padam.

Sosok tersohor, Atta Halilintar mengambil peran sebagai produser eksekutif. Suami Aurel Hermansyah ini merasa proyek film Garuda di Dadaku adalah wujud mimpinya yang akhirnya terpendam sejak lama.

"Mimpi saya jadi nyata. Karena dulu waktu kecil saya nonton Garuda di Dadaku," ungkap Atta Halilintar saat konferensi pers film di Senayan, Jakarta Pusat pada Selasa, 7 April 2026.

Atta Halilintar jelas antusias terlibat dalam penggarapan film ini. Sebab ia teringat masa kecilnya yang sangat mengidolakan karakter utama, Bayu dalam cerita legendaris tersebut.

Sementara dalam film terbaru versi animasi, Putra yang menjadi bintang utama.

"Jadi saya dari kecil ingin jadi pemain bola, ingin jadi pemain futsal yang bisa bela timnas Indonesia," jelas ayah dua anak ini.

Baca Juga: Cara Atta Halilintar Kenalkan Agama ke Anak: Setoran Zikir, Dapat Mainan

Atta Halilintar menilai karakter utama dalam animasi ini merupakan representasi dari keinginan mayoritas anak laki-laki di Indonesia.

"Kayaknya Putra dan Bayu itu adalah sosok yang mewakili banyak anak laki-laki di Indonesia," tuturnya mengenang mimpinya dulu.

Ronny Gani selaku sutradara juga memiliki visi besar melalui karya animasi terbaru yang digarapnya ini.

Ia ingin menanamkan pesan mendalam bagi seluruh anak-anak di Indonesia agar tidak takut memiliki cita-cita.

"Jadi kita pengen anak-anak itu berani bermimpi bahkan sebesar-besarnya. Jangan ada batasan," tegas sang sutradara penuh semangat.

Ronny menyadari bahwa setiap perjalanan meraih cita-cita pasti akan selalu menemui rintangan yang cukup terjal. Baginya, hambatan tersebut adalah bagian dari proses yang harus dilalui oleh setiap pejuang mimpi.

Load More