Entertainment / Music
Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:27 WIB
Lagu "Pesta Para Babi Pembangunan" yang dinyanyikan Pari Kesit yang mekritik eksploitasi tanah Papua tengah viral. [YouTube]
Baca 10 detik
  • Seniman anonim Pari Kesit merilis lagu hiphop berjudul "Pesta Para Babi Pembangunan" yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
  • Lagu tersebut mengkritik eksploitasi lahan adat di Papua akibat proyek strategis nasional dan ekspansi perkebunan kelapa sawit korporasi.
  • Karya ini menyoroti dampak kebijakan negara terhadap masyarakat adat Papua guna menggugah kesadaran publik mengenai ancaman kepunahan peradaban.

Suara.com - Musik tak pernah sekadar menjadi deretan nada. Di tangan yang tepat, ia adalah senjata.

Belakangan ini, jagat media sosial diguncang oleh sebuah lagu hiphop provokatif yang liriknya "memerah telinga" para penguasa.

Berjudul "Pesta Para Babi Pembangunan", karya ini menjadi viral bukan hanya karena iramanya yang menghentak, tapi karena keberaniannya memotret luka menganga di Tanah Papua.

Lagu ini lahir dari tangan dingin sosok anonim yang menamakan dirinya Pari Kesit.

Menariknya, karya ini tidak lahir dari studio rekaman konvensional, melainkan hasil kolaborasi kreatif dengan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Meski digarap secara digital, nyawa dari lagu ini sangat nyata: terinspirasi dari film dokumenter tajam karya Dandhy Dwi Laksono yang berjudul "Pesta Babi".

Jeritan di Balik Proposal Korporasi

Melalui bait-bait liriknya, Pari Kesit membawa pendengar masuk ke dalam realita pedih masyarakat adat Papua yang kian terpinggirkan.

Lagu ini dibuka dengan baris yang menyayat sekaligus menyindir: "Tanah dibakar atas nama pangan, hutan dibelah atas nama masa depan."

Baca Juga: 'Pesta Babi' Ungkap Realitas Kelam, Kader PDIP: Jika Film Itu Tidak Bagus, Sediakan Ruang Debat

Lirik tersebut bukan sekadar kiasan. Ia adalah potret ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) dan gurita perkebunan kelapa sawit yang terus meluas, menelan hutan-hutan adat yang menjadi napas kehidupan warga lokal.

"Papua menangis di balik proposal korporasi," tulis Pari Kesit, sebuah sindiran telak bagi keterlibatan perusahaan raksasa yang dituding mengeksploitasi lahan demi keuntungan segelintir pihak, sementara pemilik sah tanah tersebut hanya bisa menonton dari pinggiran.

Stabilitas atau Kolonisasi?

Tak hanya menyasar korporasi, Pari Kesit juga melayangkan kritik tajam pada narasi pemerintah.

Ia menyoroti bagaimana istilah "stabilitas negara" sering kali dijadikan tameng untuk memuluskan jalan investasi di wilayah selatan Papua.

"Negara bicara stabilitas sambil tanam kolonisasi," ucapnya dalam lirik yang lugas.

Load More