- Pemerintah membuka proyek perkebunan seluas 2,5 juta hektar di Papua yang mengancam hutan warisan leluhur masyarakat setempat.
- Masyarakat Papua melakukan perlawanan terhadap pembabatan hutan menggunakan simbol salib merah serta ritual adat pesta babi.
- Film dokumenter garapan Dandhy Laksono dan Cypri Dale menyoroti dampak hilangnya ruang hidup serta intimidasi terhadap warga Papua.
Suara.com - "Kami sebagai masyarakat setempat tidak tahu. Kaget pagi-pagi kapal sudah ada di pelabuhan kami," kata Yasinta, perempuan dari Distrik Ilwayab di Tanah Papua dalam cuplikan film Pesta Babi.
Ya, film Pesta Babi menyoroti perjuangan masyarakat Papua dalam mempertahankan tanah warisan leluhur.
Tapi kemudian, pemerintah membuat proyek raksasa dengan membabat 2,5 juta hektar hutan Papua.
Tujuannya? Untuk perkebunan kelapa sawit sebagai bahan biodiesel, tebu yang menjadi bahan bioetanol serta sawah.
Rakyat Papua melawan pembabatan hutan yang menjadi rumah hingga tempat mereka mencari makan.
Singkatnya, sebagai simbol perlawanan, masyarakat Papua mendirikan salib merah di berbagai area hutan.
Ini sebagai tanda bahwa tanah Papua adalah milik mereka.
Pesta babi pun diadakan, sebagai ritual adat. Tujuan awal sebenarnya adalah untuk meredam konflik.
Pesta babi di sini juga menjadi perlawanan. Di mana jika hutan dibabat, babi dan hewan lain tidak memiliki tempat tinggal.
Baca Juga: 'Pesta Para Babi Pembangunan': Lagu Hip-Hop dari Pari Kesit yang Bikin Penguasa Kepanasan
Maka jika mereka tidak ada, kehidupan pun akan punah. Sebab tidak ada lagi perputaran rantai makanan, termasuk pada manusia.
Tapi, film Pesta Babi yang digarap Dandhy Laksono dan Cypri Dale tidak sesederhana sinopsis cerita.
Saat saya menyaksikan film ini, dada terasa sesak. Melihat tim Watch Dog dan Ekspedisi Indonesia merekam perlawanan masyarakat Papua.
Setiap perlawanan di berbagai distrik Papua, diwakili satu cerita dari seseorang.
Misalnya, Yasinta dari distrik Ilwayab. Sehari-harinya, perempuan ini merupakan petani sayur.
Ia berkebun, menjualnya untuk mendapatkan uang dan membeli barang kebutuhan.
Tapi tiba-tiba, ribuan alat berat datang dan mengagetkannya.
"Kami sebagai masyarakat setempat tidak tahu. Kaget pagi-pagi kapal sudah ada di pelabuhan kami," kata Yasinta.
Beda cerita dengan Vincent dari distrik Jagebob. Hutannya dibabat untuk markas TNI.
Sebab, pembabatan juga diawasi ribuan TNI yang berjaga. Masyarakat, bukannya merasa aman tapi was-was.
"Kalau satu kampung begini tidak bisa aman. Kita punya orang ini ya dianiaya, dipukul," ucap seorang perempuan dalam film tersebut.
Cerita miris lain hadir dari Franky Woro dari suku Awyu. Hutan mereka dikuasi untuk perkebunan lahan kelapa sawit.
Padahal, Hutan ini adalah supermarket bagi suku Awyu. Juga lumbung pangan atau bank untuk menyimpan deposito kekayaan alam.
"Kayu-kayu ini kita bisa gunakan untuk kerja (bikin) perahu, kulit dan getahnya itu kita pakai untuk panah-panah ini," ujar Franky.
Karena itu, Franky Woro bersama sejumlah orang menandai pohon-pohon dengan cat merah.
Mereka juga mendirikan salib-salib berukuran besar sebagai tanda, hutan itu adalah milik orang Papua.
Perlawanan mereka dihalau, ada yang mendapat intimidasi. Meminta agar mereka mencopot salib-salib yang berdiri.
Bahkan dari film tersebut diketahui, satu hektar tanah hanya dihargai Rp300.000. Tapi mereka menolak.
Rakyat Papua mempertahankan hutan lewat cat merah dan salib, sementara musuh mereka adalah alat-alat berat.
Belum lagi, orang-orang yang memiliki kuasa atas izin pembabatan hutan.
"Lawan sebesar inilah yang sedang dihadapi Yasinta di Kampung Wanam, Merauke, atau petani perempuan lain seperti Enrika Gebze," demikian ucapan narator dalam film Pesta Babi.
Seorang warga juga berucap, apa artinya hidup di Indonesia. Sebab, negara pun tak melindungi mereka.
Orang-orang itu datang untuk membabat hutan, seolah Papua tanah tak bertuan.
"Percuma hidup di bawah naungan merah putih, tapi tidak melindungi kami," kata seorang warga.
Selain dari sisi perjuangan rakyat Papua, film ini juga membuka keterlibatan sejumlah pengusaha.
Salah satu yang tersohor adalah nama Haji Islam. Tapi, pengusaha asal Kalimantan itu adalah satu dari beberapa nama yang disebut dalam film Pesta Babi.
Sebagai penutup, masyarakat menggelar pesta babi. Ritual ini tidak bisa sembarangan dilakukan.
"Babi-babi ini tidak dipelihara di kandang. Setelah diberi nama, mereka dilepas liarkan di hutan sejak kecil," ucap narator.
"Sepuluh tahun kemudian, jika tiba saatnya pesta, para pemburu akan mencari mereka di dalam 479 hektar hutan milik Marga Kimko," imbuhnya.
Adanya Pesta Babi juga sebagai persiapan diri untuk konsolidasi.
Sebab mereka yang datang bukan lagi tentara seperti operasi militer Papua 1984, tapi juga juga alat-alat berat bersama para pebisnis pangan dan energi.
Berita Terkait
-
'Pesta Para Babi Pembangunan': Lagu Hip-Hop dari Pari Kesit yang Bikin Penguasa Kepanasan
-
'Pesta Babi' Ungkap Realitas Kelam, Kader PDIP: Jika Film Itu Tidak Bagus, Sediakan Ruang Debat
-
Mengapa Aparat Takut dengan Film 'Pesta Babi? Dokumenter yang Menguak Sisi Gelap Proyek di Papua
-
Siapa Aktor Di Balik Pembubaran Nobar Film Pesta Babi?
-
Bantah Pemerintah Larang Nobar Film Pesta Babi, Menko Yusril: Silakan Tonton dan Debat!
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Juicy Luicy Rilis 'Gurun Hujan', Lagu Buat Kamu yang Menanti Pertemuan Tak Pasti
-
'Pesta Para Babi Pembangunan': Lagu Hip-Hop dari Pari Kesit yang Bikin Penguasa Kepanasan
-
Jadi Penutup Tur Asia, Ini Prediksi Daftar Lagu Konser ONE OK ROCK di Indonesia Arena Hari Ini!
-
Perbedaan Mencolok Film Joker dan Sekuelnya, Keduanya Lagi Tayang di Netflix
-
BABYMONSTER Resmi Umumkan Konser di Jakarta Oktober 2026, Catat Tanggal War Tiketnya
-
Review Children of Heaven Versi Indonesia: Melokal dan Lebih Segar Berkat Peran Komika
-
Tolak Kebiri Kiai Ashari, Sikap Komnas Perempuan Tuai Amarah Publik: Korban di Mana?
-
Dikritik Soal Artikulasi, Mahalini Akhirnya Bongkar Alasan di Balik Gaya Bernyanyinya
-
Modus Licik Oknum Ulama Nikahi Banyak Perempuan: Pakai Dalil Palsu hingga Hamil Kembar
-
Kuntilanak Malam Ini di ANTV: Masterpiece Film Horor Indonesia