Entertainment / Film
Senin, 25 Mei 2026 | 18:35 WIB
Film Pesta Babi. (Instagram/watchdoc_insta)
Baca 10 detik
  • Sutradara Dandhy Laksono merespons polemik pengakuan Yasinta Moiwen terkait kemunculannya dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi tersebut.
  • Yasinta Moiwen sebelumnya menyatakan tidak mendapat penjelasan rinci mengenai penggunaan rekaman dirinya dalam film tentang masyarakat adat.
  • Dandhy meminta masyarakat untuk tidak menghakimi Yasinta melalui unggahan media sosial pribadinya pada 25 Mei 2026 lalu.

Cerita dalam dokumenter ini berfokus pada pengalaman masyarakat adat yang terdampak langsung, termasuk tokoh-tokoh seperti Yasinta Moiwend dari suku Marind, Vincen Kwipalo dari suku Yei, serta komunitas Awyu.

Mereka digambarkan sebagai kelompok yang berusaha mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri besar.

Dalam narasinya, film ini memperlihatkan bagaimana kawasan hutan adat perlahan berubah menjadi perkebunan skala besar.

Perubahan tersebut berdampak pada kehidupan masyarakat lokal yang kehilangan sebagian ruang hidup, sumber pangan, hingga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, dokumenter ini juga menyoroti isu lain seperti dugaan keterlibatan aparat dalam pengamanan proyek investasi, konflik lahan, serta tekanan yang dialami oleh masyarakat yang menolak pelepasan tanah adat mereka.

Hal ini menambah kompleksitas persoalan yang diangkat dalam film tersebut.

Salah satu simbol perlawanan yang ditampilkan dalam film adalah pemasangan salib merah oleh warga adat.

Simbol ini digunakan sebagai bentuk penolakan terhadap pembukaan hutan dan penguasaan lahan oleh perusahaan besar, sekaligus menjadi tanda protes atas perubahan yang terjadi di tanah mereka.

Baca Juga: Sinopsis The Doorman: Kucing-kucingan eks Marinir dan Perampok, di Bioskop Trans TV Malam Ini

Load More