SUARA GARUT - Salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan, karena rendahnya daya beli masyarakat, termasuk di dalamnya adalah guru sukarelawan (Guru Sukwan).
Tidak banyak yang tahu, bagaimana sebenarnya perjuangan guru sukwan berjuang mendapatkan kesejahteraan bahkan hingga berubah status menjadi seorang abdi negara.
Padahal jika mau jujur kita bisa melihat fakta dilapangan, guru sukwan quantitasnya lebih besar dibanding yang berstatus aparat Sipil Negara (ASN).
Kehadiran guru, menjadi fondasi dalam peradaban sebuah bangsa, tanpa membedakan sukwan, honorer, dan atau ASN.
Masing-masing guru tersebut memiliki peran, dan kontribusi yang cukup besar dalam mencerdaskan anak bangsa.
Tanpa adanya guru baik itu seorang sukarelawan, maupun honorer apalagi ASN, mustahil suatu bangsa akan berhasil dan bisa maju.
Jadi sudah sepantasnya bahwa kesejahteraan guru patut dan layak diperhatikan semua pihak, terutama yang bernama negara.
Negara dalam hal ini harus berdiri paling depan dan kokoh dalam membentengi hingga mampu mensejahterakan guru.
Namun terkadang, paling menyedihkan, bahkan menyakitkan di tengah-tengah masyarakat jika mendengar ada seorang guru yang hidupnya sangat kesusahan.
Baca Juga: Edy Rahmayadi Bakal Pecat Komisioner KI Sumut Jika Terbukti Selingkuh
Misalnya saja, ada guru yang karena gajinya jauh dari kata cukup tidak mampu berobat kedokter, bahkan hingga mencukupi keluarganyapun harus nyambi menjadi kuli.
Pemandangan seperti itu, kerap kali kita lihat atau kita dengar khususnya di pedalaman, atau di pedesaan yang terpencil.
Ini sebuah hal yang cukup miris untuk sebuah negara sebesar Indonesia, yang katanya kaya dengan hasil bumi, hasil alam, dan lainya.
Sebelum kita kenali sebabnya, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu perbedaan antara guru sukwan, dan guru honorer, pasalnya sama-sama non ASN.
Guru Sukwan, hadir untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik, akibat sedikitnya guru yang berstatus ASN, jumlahnya bahkan paling banyak.
Guru yang satu ini diangkat oleh kepala satuan pendidikan, baik swasta maupun di sekolah negeri, bernaung di Depag atau di Dinas Pendidikan.
Berita Terkait
-
Kabar Gembira! Jelang Lebaran Guru Bantu di Pelosok di Garut Akan Dapat Bantuan Rp.5 Miliar
-
Honorer Akhirnya Senang, Pemerintah Beri Keputusan Soal Penyelesaian Non ASN, Yang Terakhir Kabar Baik
-
Kemendikbudristek Rilis Aturan Kenaikan Jabatan, Siap-siap April 2023 Guru dan Pengawas Sekolah Akan Naik Pangkat
Terpopuler
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
Pilihan
-
Iran Umumkan Kabar Duka! Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani Tewas sebagai Martir
-
Trump Ditinggal Tangan Kanan, Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Mundur
-
Waspada Puncak Arus Mudik Besok! 187 Ribu Orang Bakal Padati Bandara Soekarno-Hatta
-
Rudal Iran Hantam Jantung Israel Malam Ini, Saksi Mata: Bumi Bergetar seperti Gempa
-
Ledakan Besar di Baghdad! Kedutaan AS Diserang Drone dan Roket
Terkini
-
Promo Superindo 18 Maret 2026: Diskon Daging, Ikan, dan Makanan 30 Persen Buat Lebaran
-
Novel Can't I Go Instead, Perjuangan Melawan Penindasan
-
Meluncur 19 Maret, Fitur Utama Laptop Xiaomi Book Pro 14 Terungkap
-
Orleans Masters 2026: Lolos ke 16 Besar, Leo/Bagas Manfaatkan Jeda untuk Evaluasi Kekurangan
-
Komisi C DPRD DKI: Terminal Kalideres Harus Renovasi Total demi Kenyamanan Pemudik
-
Huawei FreeClip 2: Earbuds Nyaman dengan Teknologi AI dan Suara Jernih
-
Ekonom Ungkap Alasan Ojol Langka Jelang Lebaran
-
IHSG Hari Ini Libur atau Tidak? Simak Jadwal Bursa Saham saat Nyepi dan Idulfitri
-
Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
-
Kutukan Kain Legam