Ilustrasi anak dan rokok (Sumber: Shutterstock)
Masihkan Anda mengingat kisah Muhammad Dihan Awalidan, balita asal Jawa Barat yang membuat publik heboh pada tahun 2012 silam karena kebiasaannya merokok? Kini, Dihan sudah berusia tujuh tahun dan masih juga kecanduan rokok.
Adalah media asal Inggris seperti Mirror, Dailystar, dan Metro yang kembali menyorot Dihan, bocah perokok dari Kampung Cicapar, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut ini. Lansiran media-media tersebut, Dihan, yang semula bisa menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari, kini sudah bisa mengurangi menjadi hanya 16 batang saja.
Dihan, bersama tiga rekannya, Nawan (11), Jujun (7), dan Dede (8) biasa menghisap belasan batang rokok tiap hari. Orang tua mengaku tak mampu menghentikan kebiasaan anak-anak mereka.
Dihan biasa membeli rokok kretek dengan uang saku dari orang tuanya. Malahan, kadang ia mengumpulkan uang receh milik orang tuanya secara diam-diam untuk membeli rokok.
Orang tua dan para guru tiada habisnya memperingatkan Dihan agar berhenti merokok. Namun, keinginan Dihan sulit dicegah.
"Dihan sudah merokok sejak umur tiga tahun. Saat itu ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok," kata ayah Dihan, Iyan (36).
"Jika ia tidak diberikan uang rokok, ia akan marah atau mencuri rokok," lanjutnya.
Kini, Dihan bisa mengurangi jumlah rokok yang ia hisap menjadi 16 batang saja dalam sehari. Tetapi, untuk berhenti total, ia masih belum bisa.
Bahkan, meskipun bungkus-bungkus rokok yang dipasarkan saat ini sudah memuat gambar-gambar mengerikan terkait akibat buruk merokok, Dihan mengaku tak takut. Ia mengatakan, gambar-gambar tersebut palsu.
Kini, bibir Dihan sudah menghitam lantaran banyaknya kadar tar yang ia masukkan lewat mulut ke dalam paru-parunya.
"Kalau Dihan tak merokok ia menangis. Sekarang ia merokok diam-diam, tidak terbuka seperti sebelumnya. Ia merokok di sawah dekat rumah," kata ibu Dihan, Tati.
Mirror juga mengutip pernyataan dari ketua Kampanye Bocah Bebas Tembakau Matt Myer. Menurut Matt, Indonesia adalah salah satu negara yang jadi ladang yang subur bagi industri tembakau. Indonesia menjadi pasar tembakau kelima terbesar di dunia di mana sepertiga kaum mudanya sudah mencoba menghisap rokok sebelum genap berusia 10 tahun.
"Pemerintah yang gagal melindungi anak-anak, sebuah industri yang memasarkan produknya seperti enam puluh tahun silam," kata Matt.
"Ada lebih banyak perokok di bawah usia 10 tahun dibanding di negara-negara lainnya," lanjutnya.
"Jika Anda berkendara mengelilingi Indonesia, Anda akan dengan mudah menemui gambar-gambar iklan tembakau. Merokok bukan hanya kebiasaan di sana, melainkan sudah menjadi norma budaya, berkat adanya jenis iklan yang tidak pernah kita saksikan di negara-negara Barat dalam 50 tahun terakhir," ujar Matt. (Mirror)
Adalah media asal Inggris seperti Mirror, Dailystar, dan Metro yang kembali menyorot Dihan, bocah perokok dari Kampung Cicapar, Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut ini. Lansiran media-media tersebut, Dihan, yang semula bisa menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari, kini sudah bisa mengurangi menjadi hanya 16 batang saja.
Dihan, bersama tiga rekannya, Nawan (11), Jujun (7), dan Dede (8) biasa menghisap belasan batang rokok tiap hari. Orang tua mengaku tak mampu menghentikan kebiasaan anak-anak mereka.
Dihan biasa membeli rokok kretek dengan uang saku dari orang tuanya. Malahan, kadang ia mengumpulkan uang receh milik orang tuanya secara diam-diam untuk membeli rokok.
Orang tua dan para guru tiada habisnya memperingatkan Dihan agar berhenti merokok. Namun, keinginan Dihan sulit dicegah.
"Dihan sudah merokok sejak umur tiga tahun. Saat itu ia bisa menghabiskan tiga bungkus rokok," kata ayah Dihan, Iyan (36).
"Jika ia tidak diberikan uang rokok, ia akan marah atau mencuri rokok," lanjutnya.
Kini, Dihan bisa mengurangi jumlah rokok yang ia hisap menjadi 16 batang saja dalam sehari. Tetapi, untuk berhenti total, ia masih belum bisa.
Bahkan, meskipun bungkus-bungkus rokok yang dipasarkan saat ini sudah memuat gambar-gambar mengerikan terkait akibat buruk merokok, Dihan mengaku tak takut. Ia mengatakan, gambar-gambar tersebut palsu.
Kini, bibir Dihan sudah menghitam lantaran banyaknya kadar tar yang ia masukkan lewat mulut ke dalam paru-parunya.
"Kalau Dihan tak merokok ia menangis. Sekarang ia merokok diam-diam, tidak terbuka seperti sebelumnya. Ia merokok di sawah dekat rumah," kata ibu Dihan, Tati.
Mirror juga mengutip pernyataan dari ketua Kampanye Bocah Bebas Tembakau Matt Myer. Menurut Matt, Indonesia adalah salah satu negara yang jadi ladang yang subur bagi industri tembakau. Indonesia menjadi pasar tembakau kelima terbesar di dunia di mana sepertiga kaum mudanya sudah mencoba menghisap rokok sebelum genap berusia 10 tahun.
"Pemerintah yang gagal melindungi anak-anak, sebuah industri yang memasarkan produknya seperti enam puluh tahun silam," kata Matt.
"Ada lebih banyak perokok di bawah usia 10 tahun dibanding di negara-negara lainnya," lanjutnya.
"Jika Anda berkendara mengelilingi Indonesia, Anda akan dengan mudah menemui gambar-gambar iklan tembakau. Merokok bukan hanya kebiasaan di sana, melainkan sudah menjadi norma budaya, berkat adanya jenis iklan yang tidak pernah kita saksikan di negara-negara Barat dalam 50 tahun terakhir," ujar Matt. (Mirror)
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS