Suara.com - Anda pasti akan berdecak kagum dengan sederet karya hasil tangan Mohammad Fajrul Hakam Hidayat. Meski memiliki keterbatasan, murid kelas 3 SD SLB Santi Rama ini mampu menorehkan prestasi membanggakan lewat lukisan-lukisan indahnya.
Ya, penyandang tunarungu ini mampu membuktikan diri bahwa keterbatasan tak membuatnya berhenti berkarya. Justru, bocah berusia 10 tahun ini terpecut semangatnya untuk menunjukkan potensinya di seni lukis.
Sang ibu, Esus Sundusyah mengatakan bahwa potensi putranya di seni lukis sudah terlihat sejak balita. Fajrul sering menggambar bentuk tertentu di atas kertas, padahal Esus tak pernah mengajarinya.
"Saya melihat anak saya bakatnya di melukis, kalau ada kertas dia suka gores-gores dan kelihatan bentuknya apa. Misal gambar wajah ada mata, alis, hidung, terus saya ikutkan dia di ekstra kurikuler melukis saat PAUD," ujarnya pada temu media peringatan Hari Disabilitas Internasional di Kemenkes, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Esus menceritakan bahwa kelainan yang dialami Fajrul mulai disadarinya sejak putranya berusia 7 bulan. Tak seperti bayi-bayi lainnya yang umumnya menangis ketika mendengar suara yang mengagetkan seperti gemuruh petir atau pintu yang dibanting, Fajrul sama sekali tak merespon. Ia tetap tenang seperti tak ada suara yang mengusik.
"Pas hamil usia 4 bulan saya memang terinfeksi rubella, dan dokter bilang biasanya ada kelainan di janin, tapi nggak dibilang kelainannya apa. Dan setelah lahir saya juga lupa peringatan dari dokter kalau anak saya akan mengalami kelainan. Dan saya baru nyadar ketika usia 7 bulan anak saya nggak nangis ketika dengar petir," tambah perempuan berusia 46 tahun ini.
Namun ia tak menyesal telah melahirkan Fajrul ke dunia, Justru Estu bangga dengan buah hatinya yang 'istimewa' itu berhasil membuktikan diri dengan prestasinya yang mengagumkan di seni lukis.
Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, Fajrul telah mengoleksi lebih dari 10 piala buah kemenangannya di kompetisi melukis. Bahkan, pada beberapa kompetisi, ia mampu mengalahkan anak-anak non-disabilitas. Sebuah capaian prestasi yang tentu saja sangat membanggakan.
"Saya lebih mengarahkan dia sesuai bakatnya. Akademik saya nggak terlalu push, tapi buktinya dia pintar juga. Daya ingat dia juga lumayan," tambahnya.
Beranjak dari kisah Fajrul yang inspiratif ini, yuk mulai sekarang hapus stigma negatif terhadap penyandang disabilitas, karena keterbatasan bukan penghalang bagi mereka untuk berkarya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi