Suara.com - Hampir setiap orang pernah mengalami sensasi menggelitik dan menusuk yang datang tiba-tiba di tangan atau kaki. Kita umum menyebutnya dengan “kesemutan”, karena sensasi yang dirasakan layaknya digerayangi ratusan semut di bawah kulit.
Kulit Anda mungkin terasa sedikit kebas (mati rasa), seolah Anda tidak bisa merasakan sensasi apapun selain rasa menggelitik dan gatal yang mengganggu — bagaikan ditusuk-tusuk jarum kecil.
Ketika kaki Anda kesemutan, bahkan untuk menumpukkan sedikit saja berat badan di kaki akan terasa menyengsarakan. Memang tidak sampai terasa sakit minta ampun, tapi rasanya lumayan tidak nyaman juga.
Anehnya, hanya dengan menggoyang-goyangkan kaki sebentar saja, sensasi kesemutan ini akan perlahan menghilang.
Lantas, apa itu kesemutan?
Kesemutan seperti dilansir hellosehat.com adalah kondisi yang Anda alami saat tangan atau kaki menerima tumpuan tekanan berat dalam waktu yang cukup lama. Dalam dunia medis, kesemutan disebut dengan paresthesia.
Rasa kebas dan menggelitik yang tidak nyaman ini biasanya terjadi di bagian-bagian tubuh yang rutin digunakan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya kaki, lengan, atau tangan (berlutut terlalu lama, duduk bersila, atau tidur bersedekap).
Tubuh manusia memiliki miliaran saraf yang berfungsi sebagai jalur komunikasi dari otak ke seluruh tubuh. Saraf perifer tubuh mengirim informasi kembali ke otak dan sumsum tulang belakang.
Saat tangan atau kaki menerima begitu banyak tekanan, saraf-saraf yang menjalar di dalamnya akan terjepit. Sementara itu, tekanan tersebut juga akan menghimpit pembuluh darah yang menyokong kerja kumpulan saraf tersebut.
Saraf yang terjepit akan menyebabkan otak Anda kekurangan informasi yang diharapkan datang dari kumpulan saraf ini, dan saraf-saraf ini sendiri tidak bisa menerima darah dan oksigen yang mereka butuhkan dari jantung Anda — yang berarti pesan sensorik saraf akan terblokir. Pada akhirnya, anggota tubuh yang bermasalah ini akan “mati rasa”.
Tiga tahapan kesemutan
Kesemutan sebenarnya terjadi dalam tiga tahap. Pertama, dalam satu-dua menit setelah tangan atau kaki menerima tekanan berat, bahkan bisa berlangsung hingga empat menit, adalah sensasi yang disebut sebagai “kompresi menggelitik”, sensasi yang digambarkan seperti luapan busa minuman soda yang terasa samar, atau seperti berdengung.
Tahap kedua, biasanya dimulai sepuluh menit setelahnya, disebut dengan “mati rasa”. Sensasi kebas ini akan berlangsung selama tekanan pada saraf dan pembuluh darah kaki masih berlangsung.
Akhirnya, setelah tekanan diangkat, tahap ketiga mulai mengambil alih proses ini: kesemutan.
Di tahap terakhir yang kita semua sudah sangat akrab dengan sensasinya — tusukan yang menggelitik dan geli mengganggu — kaki akan berfungsi normal seperti sedia kala. Sensasi kesemutan ini disebabkan oleh proses saraf perifer yang kembali bekerja untuk mengirimkan pesan rasa sakit ke otak.
Kumpulan saraf lain, seperti saraf yang berfungsi mengatur suhu tubuh, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. Kesemutan biasanya akan terasa lebih menyakitkan daripada kedua tahap yang mengikutinya, tetapi aspek emosional dari pengalaman tersebut lebih melibatkan rasa ingin tahu atau penasaran.
Rasa tidak nyaman tersebut kemudian akan perlahan mereda, namun kita biasanya tidak dapat mengetahui dengan persis kapan sensasi tersebut akan kembali normal.
Sensasi kesemutan dapat diatasi dengan meredakan tekanan dari bagian tubuh yang terpengaruh, misalnya dengan berdiri dan berjalan sebentar setelah duduk bersila terlalu lama, atau menggoyang-goyangkan tangan. Hal ini akan memungkinkan suplai darah kembali normal, sehingga menghilangkan sensasi mati rasa dan kesemutan yang menyulitkan Anda.
Apa yang menyebabkan kesemutan?
Selain saraf yang terjepit — carpal tunnel syndrome/CTS, jaringan parut, pembuluh darah membesar, infeksi, atau tumor juga bisa memberikan tekanan pada saraf — ada banyak kondisi lain yang bisa menyebabkan Anda mengalami kesemutan.
Sebagai contoh, gigitan serangga atau hewan, racun alergen dalam makanan laut, sakit kepala migrain, atau terapi radiasi, bisa menyebabkan kesemutan. Kadar alkohol, vitamin B-12, potassium, kalsium atau natrium dalam tubuh yang tidak normal juga dianggap sebagai penyebab potensial dari kesemutan. Terapi radiasi juga dapat menghadirkan sensasi menggelitik yang tidak nyaman nan familiar ini.
Terkadang, cedera tertentu bisa menghasilkan sensasi kebas atau kesemutan, seperti cedera saraf leher atau hernia pada piringan tulang belakang (herniated disk/nucleus pulposus, atau slipped disk). Demikian juga dengan peradangan atau pembengkakan sumsum tulang belakang atau otak bisa memberikan tekanan pada satu saraf atau lebih.
Kesemutan yang perlu diwaspadai
Kesemutan umumnya bersifat sementara. Namun pada banyak kasus, kesemutan bisa menjadi kondisi medis yang berat, memayahkan, episodik, atau kronis. Kesemutan kronis biasanya akan diikuti oleh gejala lainnya, misalnya nyeri, gatal, dan penyusutan/kelemahan otot.
Dalam kasus tersebut, kesemutan bisa menjadi tanda dari kerusakan saraf, sebagai hasil dari beragam kondisi medis yang mendasarinya, misalnya kejang, cedera traumatik atau berulang, infeksi bakteri atau virus, pengerasan arteri, dan penyakit sistemik seperti stroke, diabetes, penyakit hati, ginjal, gangguan tiroid, hingga kanker.
Kerusakan saraf seperti ini disebut dengan neuropati perifer, karena pengaruhnya terhadap saraf-saraf yang jauh dari otak dan tulang belakang, seperti tangan dan kaki. Ada lebih dari 100 jenis berbeda dari neuropati perifer, dan seiring waktu, kondisi ini dapat semakin parah dan menyebabkan penurunan mobilitas tubuh hingga disabilitas.
Kesemutan juga bisa sebagai pertanda awal dari beberapa penyakit autoimun dan turunan, seperti Guillain-Barre syndrome, lupus, arthritis rematoid, Raynauds syndrome, dan Charcot-Marie-Tooth syndrome.
Gejala lain yang harus Anda perhatikan mencakup perasaan bingung dan linglung, sulit fokus, bicara cadel, gangguan penglihatan, perasaan lemah atau sakit parah, dan kehilangan kendali atas saluran pencernaan atau kandung kemih Anda.
Segera cari bantuan medis terdekat jika Anda mengalami kondisi-kondisi di atas setelah Anda mengalami kesemutan yang terasa tidak biasa, atau mengalami cedera punggung, leher, atau kepala yang membuat Anda tidak dapat berjalan atau bergerak.
Kehilangan kesadaran setelah mengalami kesemutan juga merupakan tanda peringatan bahwa Anda harus segera mencari pertolongan medis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin