Suara.com - Seorang ayah tiga anak asal Pakistan tidak dapat mendapatkan pekerjaan karena ukuran tangannya yang begitu besar, hingga membuat dia terpaksa mengemis di jalanan agar dapat memberi makan keluarganya.
Ashraf-ud-din (70), yang berasal dari Karachi menderita kondisi langka disebut macrodactyly atau bentuk gigantisme bawaan sejak lahir. Sebelumnya, Ashraf bekerja di sebuah restoran. Dia kemudian dipecat karena pelanggan menolak untuk menerima makanan darinya.
Banyak usaha yang dilakukan Ashraf agar mendapatkan pekerjaan lain, namun tak juga berhasil.
Kini, waktu dia habiskan di jalanan untuk mengemis selama sembilan jam sehari. Meski kerap disiksa orang asing dan mengejeknya sambil memberikan komentar buruk, keluarga Ashraf dan teman dekatnya tidak tahu dia mengemis karena terlalu malu untuk mengakuinya.
"Orang selalu mengejek saya. Mereka bilang saya dikutuk atau saya telah dihukum oleh Tuhan. Orang merasa jijik saat melihat saya. Ini sangat memalukan. Ukuran tangan saya telah menghentikan saya mendapatkan keterampilan atau bakat untuk mendapatkan uang. Dan orang tidak memberi saya pekerjaan karena kondisi ini jadi saya tidak punya pilihan selain mengemis. Ini bukan profesi saya karena pilihan, tapi karena tidak berdaya," curhat Ashraf.
"Saya telah melakukan segalanya untuk mencari pekerjaan. Saya bahkan mencoba bekerja di restoran beberapa tahun yang lalu tapi orang-orang menolak untuk menerima makanan dari saya jadi saya dipecat. Sejak saat itu belum ada yang merekrut saya. Saya telah ditawari bekerja sebagai buruh tapi tangan saya tidak mengizinkan saya melakukan pekerjaan seperti itu," sambungnya.
Ashraf mengaku tidak ingin melakukan operasi karena semua dokter telah menyarankan amputasi, yang telah ditolaknya. Sebaliknya, dia yakin Tuhan akan baik padanya suatu hari nanti.
"Saya berdoa suatu hari nanti saya akan baik-baik saja. Saya ingin membuka toko yang bisa saya jalani bersama istri dan anak-anak saya tapi rasanya hanya sekadar mimpi. Anak-anak saya menderita karena kondisi saya dan saya ingin mereka memiliki lebih baik daripada yang bisa saya tawarkan kepada mereka," ungkapnya.
Ashraf terlahir dengan ukuran tangan lebih besar dari manusia biasanya dan seiring bertambahnya usia, kondisi tersebut semakin memburuk.
Selama ini dia telah berusaha keras untuk mencari pekerjaan tapi tidak ada yang bersedia mempekerjakannya. Ashraf menikahi seorang perempuan yang namanya tidak diketahui lima tahun lalu dan kini memiliki tiga anak masing-masing berusia lima, tiga dan 18 bulan. Ashraf tidak pernah ingin anak-anaknya tahu bagaimana dia menghasilkan uang.
"Saya mengemis agar saya bisa menyekolahkan anak-anak saya. Saya ingin mereka pergi ke sekolah dan mengejar karir pilihan mereka. Tapi saya ingin berhenti mengemis sebelum anak-anak saya tumbuh dewasa sehingga mereka tidak pernah tahu. Saya harap seseorang dapat memberi saya istirahat sebelum anak-anak saya mengetahui bahwa ayah mereka harus mengemis," ujar dia.
Dr Jaswan Shakya, direktur medis Rumah Sakit Memorial Sushma Koirala, di Nepal, telah menangani banyak kasus kelainan gigantisme. Dia mengatakan, tangan Ashraf hanya bisa dioperasikan jika tulangnya tidak bertambah besar akibat kondisi tersebut.
"Ini bukan situasi yang mengancam jiwa tapi ini menyebabkan banyak masalah dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.
Macrodactyly merupakan sebuah kondisi gigantisme langka. Macrodactyly biasanya memengaruhi bagian tangan atau kaki. Sebagian besar hanya mempengaruhi satu tangan atau kaki, dan terkadang hanya mempengaruhi satu jari tangan atau jari kaki.
Ini adalah kondisi bawaan yang disebabkan oleh pertumbuhan tulang dan jaringan lunak secara berlebihan. Pembedahan biasanya diperlukan untuk memperbaiki jaringan yang terkena dampak macrodactyly.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?