Suara.com - Tora Sudiro mulai menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, Jakarta Timur, sejak 7 Agutus 2017 pascapenangkapan dirinya atas kepemilikan 30 butir Dumolid. Obat ini sendiri merupakan merek dagang dari nitrazepam yang dikenal sebagai obat penenang.
Kuasa hukum Tora Sudiro, Lydia Wongsonegro, mengungkap alasan kliennya mengonsumsi pil Dumolid. Menurutnya, suami artis Mieke Amalia itu mengidap sindrom Tourette selama kurun waktu dua tahun belakangan.
Lalu apa penyebab dari sindrom tourette? Menurut dr. Frandy Susatia, Sp.S dari Siloam Hospital Kebon Jeruk, sindrom Tourette biasanya bermula pada usia 2-15 tahun dan lebih umum diderita oleh laki-laki daripada perempuan.
Meski demikian ia menyebut bahwa penyebab pasti sindrom Tourette belum diketahui hingga saat ini. Diperkirakan gangguan ini terjadi dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
"Gangguan yang dialami ibu selama masa kehamilan dan kelahiran diduga menjadi faktor risiko sindrom Tourette pada anak. Misalnya berat badan lahir di bawah kisaran normal. Selain itu infeksi kuman streptococcal saat usia kanak-kanak juga diperkirakan dapat memicu sindrom ini," ujar dia saat dihubungi Suara.com, Selasa (8/8/2017).
Biasanya, orang yang mengidap sindrom tourette ini, tambah Frandy, juga disertai gangguan perilaku lainnya seperti ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), OCD (obsessive-compulsive disorder), gangguan tingkah laku (conduct disorder), seperti suka melawan dan perilaku kasar, serta mereka yang mengalami gangguan perubahan suasana hati, seperti kecemasan berlebihan dan depresi.
"Selain itu biasanya pengidap sindrom ini juga kerap mengeluarkan ucapan kata-kata kotor, kasar, atau menghina yang tak dapat ditahan, tapi gejala ini hanya terjadi pada beberapa orang yang mengidap sindrom Tourette," jelas dia merinci.
Sayangnya, kata Frandy, hingga kini tidak ada obat yang dapat menyembuhkan sindrom Tourette. Beberapa obat dan terapi ditujukan untuk mengendalikan gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari penderita seperti pemberian obat-obatan antipsikopatik, terapi wicara, hingga prosedur operasi.
"Dukungan bagi penderita sindrom dapat membantu meredakan gejala yang mereka alami yang mana dapat terpicu oleh serangan kecemasan, depresi, serangan panik yang berasal dari lingkungan di sekitar mereka," pungkas dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif