Suara.com - Dikatakan, perempuan hamil yang terpapar panas ekstrem akan meningkatkan risiko dirinya melahirkan sebelum waktunya atau prematur. Selai itu juga membawa risiko baik bagi bayi maupun dirinya sendiri.
Meski begitu, ada banyak faktor lain yang dapat menyebabkan kelahiran prematur, seperti infeksi, inkompetensi serviks dan lain-lain, yang memiliki kehamilan kembar.
Namun, sebuah studi terbaru telah menambahkan faktor risiko lain yang dapat menyebabkan kelahiran prematur dan itu adalah cuaca panas. Menurut penelitian, paparan panas yang ekstrem selama kehamilan dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi prematur.
Paparan suhu ekstrem dapat berdampak negatif pada hasil kelahiran, termasuk perubahan panjang usia kehamilan, berat lahir, kematian dan stres neonatal selama suhu panas yang luar biasa, demikian menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Research and Public Health.
"Ibu (hamil) adalah kelompok penting yang memiliki kerentanan unik terhadap tekanan panas harus dan diperhitungkan dalam kebijakan kesehatan masyarakat," kata Sabrina McCormick dari Associate Professor di Milken Institute School of Public Health di George Washington University.
Para peneliti melakukan tinjauan sistematis yang ekstensif terhadap artikel penelitian yang mengidentifikasi bagaimana eksposur terkait panas menghasilkan efek kesehatan yang merugikan bagi perempuan hamil. Temuan menunjukkan bahwa peristiwa panas yang terjadi pada musim panas menyebabkan peningkatan hasil yang merugikan terhadap kejadian lahir prematur.
"Paparan terhadap panas yang ekstrem dapat membahayakan ibu hamil dan bayinya, terutama dalam situasi di mana ibu hamil memiliki akses terbatas terhadap perawatan pranatal," kata McCormick.
"Studi kami menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut mengenai cara-cara perubahan iklim, dan panas pada khususnya, mempengaruhi kesehatan ibu dan hasil neonatal," kata McCormick lagi.
"Penelitian ini juga menunjukkan bahwa standar seragam untuk menilai efek panas pada kesehatan janin ibu harus ditetapkan," tutupnya. [Zeenews]
Baca Juga: Kafein, Tingkatkan Kemampuan Bernapas & Fungsi Paru Bayi Prematur
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?