- Penyakit jantung bawaan dapat tidak tampak sejak lahir, gejalanya muncul saat aktivitas harian terganggu oleh jantung bekerja keras.
- Prevalensi penyakit jantung bawaan meningkat global; di Indonesia, sekitar 50.000 bayi lahir dengan kondisi ini tiap tahun.
- ASD dapat ditangani di rumah sakit tertentu menggunakan teknik zero-fluoroscopy, yaitu penutupan lubang jantung tanpa paparan radiasi sinar-X.
Suara.com - Tidak semua bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan langsung menunjukkan gejala. Sebagian tampak sehat, aktif, bahkan tumbuh seperti anak lain seusianya. Namun tanpa disadari, jantung mereka bisa bekerja lebih keras dari seharusnya. Gejala sering kali baru muncul ketika kondisi mulai memengaruhi aktivitas harian.
Secara global, angka kejadian penyakit jantung bawaan terus meningkat. Data internasional menunjukkan lonjakan dari 0,6 kasus per 1.000 kelahiran hidup pada 1930 menjadi lebih dari 9 per 1.000 kelahiran hidup pada 2010. Asia tercatat sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi, dengan hampir 1 dari 100 bayi lahir membawa kelainan jantung bawaan.
Di Indonesia, angka ini sejalan dengan tingginya jumlah kelahiran. Dari sekitar lima juta kelahiran setiap tahun, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 8.500 kasus merupakan Atrial Septal Defect (ASD) tipe sekundum, yaitu kelainan berupa lubang pada sekat di antara dua serambi jantung.
“Tidak semua kelainan jantung bawaan bisa terlihat sejak bayi lahir. Beberapa anak tampak sehat, tetapi sebenarnya memiliki gangguan pada jantung akibat kelainan genetik atau perkembangan janin yang tidak sempurna,” jelas dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Dokter Spesialis Jantung dengan Subspesialis Kardiologi Pediatrik di Heartology Cardiovascular Hospital.
Ia menambahkan bahwa banyak kasus baru terdeteksi ketika anak mulai menunjukkan keterbatasan fisik atau gangguan pertumbuhan.
“Anak bisa tampak biru, mudah sesak, cepat lelah, sulit menghabiskan susu, atau memiliki riwayat lahir prematur. Kondisi-kondisi ini perlu dicurigai sebagai tanda penyakit jantung bawaan,” ujarnya.
Gejala yang Sering Terlewat
Menurut dr. Radityo, gejala penyakit jantung bawaan kerap tidak spesifik sehingga orang tua tidak menyadarinya sejak dini. Padahal, deteksi lebih awal dapat mencegah komplikasi jangka panjang.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Baca Juga: Kolesterol Jahat Masih Tinggi, 80 Persen Pasien Jantung Gagal Capai Target LDL-C
- Warna kebiruan pada kulit, bibir, atau kuku
- Mudah lelah dan sesak napas, terutama saat menyusu
- Berat badan sulit naik dan pertumbuhan terhambat
- Pembengkakan pada tungkai, perut, atau area sekitar mata
Penanganan ASD Tanpa Radiasi dengan Teknik Zero-Fluoroscopy
Di Heartology Cardiovascular Hospital, penanganan Atrial Septal Defect (ASD) kini dapat dilakukan melalui prosedur intervensi non-bedah atau percutaneous closure. Menariknya, rumah sakit ini menerapkan teknik zero-fluoroscopy, sebuah metode penutupan lubang jantung tanpa paparan radiasi.
Biasanya, prosedur kateterisasi jantung menggunakan fluoroskopi (radiasi sinar-X) sebagai panduan visual. Namun pada teknik ini, dokter menggunakan ekokardiografi sebagai alat navigasi utama, sehingga fungsi radiasi dapat sepenuhnya digantikan.
“Teknik zero-fluoroscopy memungkinkan kami melakukan tindakan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi, terutama bagi bayi, anak-anak, ibu hamil, dan juga tenaga medis yang terpapar prosedur berulang,” terang dr. Radityo.
Tanpa paparan radiasi, risiko jangka panjang seperti gangguan pertumbuhan sel atau efek kumulatif radiasi dapat dihindari. Selain itu, prosedur ini tetap memberikan akurasi tinggi dalam memastikan alat penutup ASD terpasang secara presisi.
Pendekatan ini menjadi terobosan penting dalam dunia kardiologi intervensi pediatrik, karena menghadirkan kombinasi antara teknologi canggih, keamanan pasien, dan kenyamanan selama prosedur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!