Suara.com - Selama beberapa dekade terakhir, sepuluh penyebab kematian terbesar di dunia mulai bergeser. Menurut data dari Center for Disease Control (CDC), kematian akibat penyakit menular telah berkurang dan kematian akibat penyakit tidak menular justru meningkat.
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Namun, tidak seperti di Negara maju lainnya, transisi epidemiologis belum sepenuhnya lengkap, sehingga penyakit menular tetap menjadi beban di Indonesia.
"Penurunan angka penyakit menular tidak terlalu bermakna," demikian diingatkan oleh dr. AndiDarma Putra, SpOG(K) dari Fakultas Kedokteran Unversitas Indonesia (FKUI).
Akibatnya, Indonesia memiliki beban ganda penyakit yang harus menjadi perhatian semua pihak. Di satu sisi, ada penambahan angka kematian karena penyakit tidak menular, sementara angka kematian karena penyakit menular pun masih tinggi.
Menurut Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi UI, Prof. Dr. rer.nat. Rosari Saleh, UI sebagai universitas terkemuka di Indonesia, telah mempertimbangkan untuk mengembangkan solusi dalam mengatasi masalah kesehatan global ini.
"Hal ini mendorong UI untuk secara aktif mencari solusi melalui kegiatan diskusi yang mengundang para pakar kesehatan global yang telah berpengalaman," jelasnya.
Untuk itulah FKUI melalui Medical Research Unit (MRU) menyelenggarakan kegiatan tahunan, The 2nd International Conference on Global Health (ICGH) 2017. Rangkaian The 2nd ICGH 2017 ini terdiri atas symposium, plenary lecture, oral presentation/free paper, poster exhibition, dan workshop yang digelar pada 15-16 Agustus 2017 di Aula Gedung IMERI-FKUI, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat.
Kegiatan ICGH sendiri merupakan kegiatan tahunan yang digagas Universitas Indonesia (UI) untuk diselenggarakan oleh Rumpun Ilmu Kesehatan yang terdiri atas Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Fakultas Farmasi (FF), dan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK).
Tema The 2nd ICGH 2017 adalah "Improving Quality of Life for Sustainable Development". Tema yang diangkat ini menyoroti gagasan yang diserukan oleh United Nations Development Programme (UNDP) yaitu Sustainable Development Goals.
Gagasan tersebut berfokus pada upaya bersama, secara global, untuk menanggulangi kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh manusia demi meningkatkan kualitas hidup yang berkelanjutan.
Salah satu cita-cita dari Sustainable Development Goal adalah Good Health and Well Being, atau kualitas kesehatan yang baik dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh penduduk dunia.
Namun, hingga kini permasalahan kesehatan yang sistemik dan saling berkaitan masih menjadi tantangan tersendiri dalam upaya tercapainya cita-cita tersebut. Tingginya jumlah resistensi obat, tantangan untuk mengatasi beban penyakit tidak menular, HIV/AIDS dan tuberculosis (TBC), serta ketersediaan air bersih dan sanitasi yang tidak memadai berkaitan erat dengan kemiskinan, kelaparan, kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan, industri, dan masalah infrastruktur.
"The 2nd ICGH 2017 diharapkan dapat menjadi wahana yang tepat untuk mendapatkan solusi masalah kesehatan global tersebut," harap Rosari.
Dalam kesempatan tersebut, akan hadir para pembicara yang mumpuni di bidang masing-masing di antaranya dijadwalkan akan hadir Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K), sebagai pembicara utama.
Selain itu ICGH juga akan menghadirkan sejumlah pembicara baik nasional maupun internasional, antara lain Prof. Prathip Phantumvanit (Thammasat University, Thailand); Assoc/. Prof. Teo Yik Ying (National University of Singapore); Prof. Dr. Adeeba Kamarulzaman (University of Malaya, Malaysia); Prof. dr. Maarten J. Postma (University of Groningen, Belanda); Prof. Henri Verbrugh (Erasmus Medical Center, Belanda); Ashkan Afshin, MD, MPH, MSc, ScD (University of Washington. Mereka diharapkan dapat mencari jalan keluar atas permasalahan kesehatan yang saat ini kian mengancam.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua
-
Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat
-
Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?
-
Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty
-
Cemas Datang Tiba-Tiba? Ini 7 Cara Ampuh Mengatasi Anxiety dalam Hitungan Menit
-
Halodoc for Business: 95% Kebutuhan Medis Bisa Digital, Akses Kesehatan Karyawan Makin Mudah
-
Menyeimbangkan Karier dan Anak, Daycare Berkualitas Jadi Kunci Dukungan untuk Ibu Bekerja
-
Tidak Perlu Keluar Rumah, Pesan Obat di Apotek K-24 Kini Bisa Lewat BRImo
-
Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!
-
Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas