Suara.com - Studi baru dari jaringan kesehatan masyarakat dan lingkungan global IPEN dan Biodiversity Research Institute (BRI) menyebut logam neurotoksik merkuri telah ditemukan dalam kadar yang tinggi pada perempuan usia subur di semua wilayah global.
"Studi ini mengilustrasikan ancaman pencemaran merkuri global terhadap perempuan dan anak-anak di banyak negara di Kepulauan Pasifik dan sebagian besar perempuan yang terlibat dalam pertambangan emas skala kecil," kata pimpinan investigasi itu dari IPEN Lee Bell dalam keterangannya seperti diwartakan Antara, Senin.
Studi merkuri pada perempuan usia subur di 25 negara itu, dilakukan untuk mengukur prevalensi beban tubuh merkuri pada tingkat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis dan organ tubuh. Merkuri di tubuh ibu dapat ditransfer ke janin selama kehamilan, memaparkan neurotoksin yang kuat ke dalam janin yang sedang berkembang.
Dia menjelaskan, studi itu merupakan yang pertama kali dilakukan untuk sampel di berbagai negara dan wilayah dan menyoroti perempuan usia subur.
Studi itu dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 1.044 perempuan usia subur di 37 lokasi yang tersebar di 25 negara di enam benua.
"Kadar merkuri yang sangat tinggi yang ditemukan di rambut sebagian besar perempuan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk melakukan tindakan penghapusan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan perdagangan internasional merkuri yang memasok pertambangan emas skala kecil, dua penyebab paling signifikan dari pencemaran merkuri," ujar dia.
Perempuan di Kepulauan Pasifik dan pada masyarakat di lokasi pertambangan emas di Indonesia, Kenya, dan Myanmar ditemukan memiliki kadar merkuri rata-rata beberapa kali lipat lebih tinggi daripada ambang batas yang dianjurkan oleh US Environmental Protection Agency (EPA).
Analisis yang dilakukan oleh BRI, menurut dia, telah menemukan 36 persen dari perempuan yang diambil sampelnya, memiliki kadar merkuri di atas ambang batas 1 ppm yang dianjurkan oleh US EPA yang dapat menyebabkan kerusakan otak, penurunan IQ, kerusakan ginjal, dan jaringan kardiovaskular.
Studi itu juga menemukan bahwa 55 persen dari sampel yang diperiksa memiliki kadar merkuri di atas 0.58 ppm, nilai kadar yang dikaitkan dengan timbulnya kerusakan neurologis pada janin.
Baca Juga: Ekspor Ikan Tuna Mengandung Merkuri, Indonesia Ditegur Rusia
Dia mengatakan di Indonesia, studi itu dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 67 perempuan usia subur di dua lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Pongkor, Kabupaten Bogor dan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Berdasarkan 97 persen dari sampel rambut yang diambil di Indonesia memiliki kadar merkuri di atas ambang batas 1 ppm yang dianjurkan oleh US EPA, dan keseluruhan sampel yang dikumpulkan di Indonesia memiliki kadar merkuri di atas 0.58 ppm.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi