Suara.com - Apakah Anda menggunakan minyak bekas atau minyak jelantah untuk menggoreng makanan? Jika ya, kebiasaan ini bisa menjadi penyebab penyakit jantung.
Para dokter kembali mendesak masyarakat menghindari pemakaian minyak jelantah untuk menggoreng produk makanan. Pasalnya, dipercaya dapat meningkatkan proporsi lemak trans yang menjadi sumber utama penyakit jantung.
Menurut para dokter, termasuk dari AIIMS, lemak dalam makanan terdiri dari empat jenis, yaitu lemak jenuh, tidak jenuh, mono dan trans. Minyak trans merupakan minyak paling berbahaya, apalagi jika minyak dalam keadaan panas atau dimasak dalam durasi lama.
"Orang-orang kami (India) sama sekali tidak tahu apa yang mereka makan. Lemak trans yang paling berbahaya, dan penyebab utama penyakit jantung masuk ke dalam tubuh manusia dengan berbagai cara. Seseorang harus memilih minyak goreng yang seimbang, dan memiliki kurang dari empat gram lemak jenuh," kata Sundeep Mishra, Guru Besar Kardiologi di AIIMS.
Mishra yang memiliki beberapa penelitian mengenai masalah ini mengatakan, minyak mendidih berjam-jam dan penggunaan kembali minyak sulingan menyebabkan peningkatan kandungan berbahaya pada lemak trans.
Meski minyak sawo dan minyak zaitun termasuk minyak "baik" yang sebagian besar digunakan untuk memasak, para dokter menyarankan agar menggunakan minyak yang dicampur mustard dengan ghee (minyak samin) untuk menyeimbangkan lemaknya.
Minyak zaitun hanya boleh ditaburkan pada makanan yang dimasak dan tidak digunakan untuk menggoreng karena menyebabkan peningkatan lemak trans.
Nikhil Tandon, profesor Endokrinologi di AIIMS menyatakan satu orang seharusnya hanya memiliki 0,5 liter lemak saja setiap bulannya.
"Kebiasaan makan kita sedemikian rupa sehingga penyakit jantung menjadi umum. Bahkan di pasar, biskuit dimasak dalam minyak bekas sehingga bisa diawetkan lama. Ini lagi-lagi menyebabkan asupan lemak trans, pembunuh terkemuka," ungkapnya.
Baca Juga: Perempuan Ini Ngaku Sembuh dari Kanker Gara-gara Minyak Ganja
Menyatakan bahwa jenis minyak lain seperti kelapa oleh orang-orang di India selatan yang digunakan untuk memasak membuat mereka menjadi pasien jantung akut, para dokter juga memperingatkan agar tidak menggunakan minyak kelapa sawit karena mengandung kandungan lemak trans yang tinggi.
WHO mengatakan Penyakit kardiovaskular (CVD) adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan juga di India. Mereka disebabkan oleh gangguan jantung dan pembuluh darah, dan termasuk penyakit jantung koroner (serangan jantung), penyakit serebrovaskular (stroke), tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit arteri perifer, penyakit jantung rematik, penyakit jantung kongenital dan gagal jantung.
Dokter juga mengatakan, sebuah studi menarik oleh AIIMS menunjukkan bahwa hanya 13 persen orang berpendidikan memperhatikan apa yang mereka konsumsi, dan jumlah operasi bypass jantung di kalangan kaum muda juga terus meningkat.
Praveen Chandra, dari Intervention Cardiology, Medanta Hospital, Gurgaon mengatakan bahwa India telah menyaksikan kemajuan luar biasa dalam hal pengobatan penyakit arteri koroner.
Risiko kematian pada pasien gagal jantung sebanding dengan pasien dengan kanker lanjut, dan saat ini menghabiskan biaya ekonomi dunia 108 miliar setiap tahun. (Zeenews)
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang