Jenis Tes Kesehatan untuk Lelaki Sebelum Menikah
Cek kesehatan sebelum menikah bagi lelaki dapat dilakukan beberapa bulan menjelang pernikahan dan diharapkan dapat membuat mempelai laki-laki mengetahui gambaran umum kondisi fisik serta mentalnya sehingga lebih siap menghadapi rumah tangga.
Lantas, jenis tes kesehatan apa saja yang wajib dilakukan lelaki sebelum menikah? Berikut penjelasan dari dr William, kontributor dari Hello Sehat.
1. Tes darah
Darah menyimpan banyak informasi tentang si empunya tubuh. Jenis tes darah yang umumnya dilakukan sebelum menikah adalah pemeriksaan darah lengkap (complete blood count) untuk mengetahui gambaran kesehatan individu secara umum dan mendeteksi kondisi anemia, polisitemia, maupun leukemia.
Golongan darah maupun rhesus juga tidak lupa diperiksa. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi. Jika calon pasangan memiliki rhesus yang berbeda, kemungkinan ibu akan mengandung anak dengan rhesus yang berbeda. Hal ini dapat berbahaya bagi kesehatan anak dalam kandungan karena dapat merusak sel darah dan menyebabkan anemia dan cacat organ dalam bayi.
Selain itu, tes darah HbA1C juga dapat mendeteksi risiko penyakit metabolik seperti diabetes serta mengukur kadar kolesterol, trigliserida, HDL, dan LDL.
2. Tes penyakit kelamin dan penyakit menular seksual
Menjalani tes penyakit kelamin sebelum dan seterusnya setelah menikah adalah cara yang ideal untuk suami istri saling terbuka seputar status kesehatan mereka yang terbaru dan paling akurat. Ini bukan soal masalah kecurigaan dan ketidakpercayaan semata, melainkan soal menghormati satu sama lain.
Ini merupakan faktor penting jika Anda ingin terus maju mengarungi bahtera rumah tangga yang berkualitas. Tes penyakit kelamin dapat mendeteksi berbagai penyakit kelamin seperti sipilis, gonore, HPV, dan HIV yang umumnya tidak menunjukkan gejala.
Jika tidak dideteksi dini, penyakit seksual bisa menyebabkan ketidaksuburan, bahkan kanker. Beberapa penyakit kelamin ini juga dapat diturunkan ke anak Anda nantinya, baik perpindahan infeksi saat melahirkan atau berwujud komplikasi cacat lahir.
3. Tes genetik
“Bakat” penyakit bisa diturunkan dari orangtua ke anak. Bahkan dalam beberapa kasus, penyakit keturunan juga bisa meloncati satu generasi, dari kakek-nenek langsung ke cucunya.
Tes genetik bisa mendeteksi apakah Anda memiliki “bibit” penyakit yang bisa diturunkan ke anak-cucu Anda nantinya, dan jika ya, seberapa besar risiko keturunan Anda untuk mendapatkannya Beberapa penyakit genetik yang cukup umum diturunkan misalnya asma, penyakit jantung, diabetes, kanker, depresi hingga yang langka seperti Down syndrome, buta warna, thalassemia, dan anemia sel sabit.
4. Cek kesuburan
Masalah ketidaksuburan bukan menjadi beban yang hanya ditanggung oleh pihak perempuan. Laki-laki juga memiliki risiko yang sama besarnya terhadap hal ini. Sebuah penelitian bahkan memperkirakan 30 persen masalah ketidaksuburan dalam pernikahan disebabkan oleh pihak laki-laki.
Itulah kenapa calon mempelai lelaki juga harus menjalani tes kesehatan sebelum menikah, terutama menjalani analisis air mani. Melalui pemeriksaan ini, kualitas sperma Anda bisa diketahui pasti.
Jika hasilnya menampilkan kelainan sperma yang bisa bikin lelaki tidak subur, dokter dapat membantu Anda dan pasangan merencanakan kehamilan lewat cara-cara lain, misalnya program bayi tabung.
5. Konseling dan dukungan psikologis
Satu hal yang tidak boleh terlupakan dalam runutan cek kesehatan sebelum menikah bagi laki-laki adalah konseling psikolog. Pemeriksaan ini penting untuk menilai kesiapan mental Anda untuk menjadi kepala keluarga.
Apabila ditemukan tanda-tanda pada diri Anda yang berpotensi menimbulkan stres dalam rumah tangga nantinya, maka terapis bisa menyarankan Anda untuk menjalani terapi dan bimbingan untuk meminimalisasi terjadinya konflik di kemudian hari.
Konseling juga penting untuk mendeteksi risiko penyakit jiwa, terutama mengenali tanda-tanda depresi pada lelaki. Depresi adalah penyakit yang dapat menimpa siapa saja.
Namun efeknya mungkin akan lebih fatal pada pria karena kebanyakan pria tidak menyadari gejalanya atau bahkan menutup-nutupinya. Lelaki lebih rentan bunuh diri akibat depresi yang tidak tertangani.
Meskipun jumlah perempuan yang mencoba bunuh diri tiga kali lipat daripada laki-laki, namun ternyata, jumlah laki-laki yang benar-benar melakukan bunuh diri adalah empat kali lebih banyak daripada perempuan.
Di samping itu, adanya riwayat keluarga depresi di keluarga Anda akan memungkinkan terjadinya peningkatan risiko terjadinya depresi pada anak Anda.
Jika Anda masih ragu untuk menjalani tes kesehatan sebelum menikah, ada baiknya minta ditemani oleh calon istri agar berbagai kondisi kesehatan yang ada juga dapat langsung dikomunikasikan dengan baik.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
-
Menkeu Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026: DPR Beri Tepuk Tangan!
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Terkini
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya