- Brigadir Jenderal Majid Khademi, kepala intelijen Garda Revolusi Iran, dilaporkan tewas dalam serangan AS dan Israel, Senin (6/4).
- Kematian Khademi terjadi menyusul tewasnya komandan Alireza Tangsiri dan Mohammad Kazemi akibat serangkaian serangan militer di wilayah Iran.
- Peristiwa ini menunjukkan tekanan besar terhadap struktur kepemimpinan militer IRGC di tengah eskalasi konflik dengan AS dan Israel.
Suara.com - Kepala Organisasi Intelijen Garda Revolusi Iran (IRGC), Majid Khademi dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Kabar tersebut diumumkan oleh media pemerintah Iran di tengah meningkatnya eskalasi perang AS-Israel vs Iran.
“Brigadir Jenderal Seyyed Majid Khademi telah gugur sebagai martir,” demikian pernyataan resmi Islamic Republic News Agency seperti dikutip dari BBC, Senin (6/4).
Namun, pihak militer Iran tidak merinci lokasi pasti tewasnya pejabat tinggi tersebut.
Kematian Khademi terjadi hanya beberapa hari setelah Garda Revolusi Iran mengonfirmasi kematian komandan lainnya, Alireza Tangsiri.
Alireza disebut meninggal akibat luka parah setelah serangan di wilayah Bandar Abbas.
Media Iran menyebut Tangsiri tewas dalam serangan Israel yang menargetkan sebuah bangunan strategis.
Khademi sendiri diketahui menggantikan Mohammad Kazemi, yang juga dilaporkan tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025. Perubahan berulang di pucuk pimpinan intelijen IRGC menunjukkan tekanan besar yang dihadapi struktur militer tersebut.
Dalam struktur organisasinya, IRGC memiliki berbagai cabang, termasuk angkatan darat, laut, dan udara.
Baca Juga: Rupiah Loyo ke Rp17.035, Defisit Anggaran hingga Isu Perang AS-Iran Jadi Biang Keladi
Garda Revolusi Iran juga mengawasi persenjataan strategis Iran yang menjadi pusat kekuatan militer negara itu.
Selain itu, IRGC mengoperasikan unit luar negeri bernama Quds Force yang bertugas mendukung kelompok sekutu di Timur Tengah. Unit ini diketahui memberikan bantuan berupa dana, senjata, dan pelatihan militer.
Sementara itu, Basij Resistance Force berada di bawah kendali IRGC sebagai kekuatan paramiliter domestik.
Berita Terkait
-
Rupiah Loyo ke Rp17.035, Defisit Anggaran hingga Isu Perang AS-Iran Jadi Biang Keladi
-
KSPI Wanti-Wanti Gelombang PHK dalam 3 Bulan: Sektor Padat Karya Paling Terpukul
-
Draf Gencatan Senjata AS-Iran Beredar, Selat Hormuz Jadi Kunci Kesepakatan
-
Perang Memanas! Trump Bakal Pakai Uang Pajak Warga AS Demi Proyek Mercusuar
-
Trump Ancam Iran Jadi Neraka Dunia, Pengamat UGM: Kalau Terlalu Berisik, Biasanya Tak Serius
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan
-
Mendagri Serahkan Anugerah Adinata Syariah 2026, Dorong Pemda Kembangkan Potensi Ekonomi Syariah
-
Dua Aksi Demonstrasi di Jakarta Pusat Hari Ini, 413 Personel Gabungan Disiagakan
-
Mulai Tahun Ini, 13 Juli Resmi Diperingati sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59 Persen, Dukungan Pramono terhadap UMKM dan PKL Tuai Pujian
-
Fadli Zon Sebut Ziarah Gunung Kawi Merupakan Warisan Tradisi
-
Alasan Indonesia Tak Kirim Pejabat Tinggi ke Penghormatan Terakhir Ayatollah Khamenei
-
Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal
-
WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta
-
Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?