Suara.com - Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae. Kasus infeksi ini mudah menular dan berbahaya, karena dapat menyebabkan kematian.
Meski sudah ada vaksin DPT untuk mencegah terjadinya difteri, 95 kabupaten/kota di Indonesia dilaporkan terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Muhammad Subuh, mengungkapkan penyebab utama mewabahnya difteri di Indonesia diduga karena aksi penolakan imunisasi dari masyarakat. Berdasarkan laporan yang diterimanya, 66 persen kasus difteri disebabkan karena tidak diimunisasi.
"Sekitar 31 persen karena imunisasi tidak lengkap, dan hanya tiga persen imunisasi lengkap," ujar Subuh dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (6/12/2017).
Sebagai langkah untuk mengatasi kejadian luar biasa (KLB) Difteri ini, Subuh mengatakan, pihaknya akan menggelar outbreak response immunization (ORI) yakni imunisasi tahap awal yang digelar serentak di 12 kabupaten/kota pada Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Dia berharap, tidak ada lagi penolakan terhadap imunisasi untuk menurunkan risiko penularan difteri yang mematikan ini.
"Sebenarnya kalau cakupan imunisasi minimal 95 persen dari penduduk yang ada, penyakit difteri ini bisa dihilangkan karena sudah terjadi kekebalan kelompok sehingga bakteri tidak bisa menginfeksi orang lain. Kalau di bawah itu (95 persen) tidak akan terwujud," imbuh dia.
Subuh pun meluruskan definisi kejadian luar biasa yang mungkin belum diketahui masyarakat. Suatu daerah disebut mengalami KLB, kata dia, jika ditemukan kasus baru di mana sebelumnya tidak ada kasus penyakit tertentu di daerah tersebut.
"Selain itu ada peningkatan dua kali lipat dalam periode sebelumnya atau ada peningkatan kematian. Jadi ketika sebelumnya suatu daerah tidak pernah ada kasus difteri dan tiba-tiba dilaporkan satu kasus, itu sudah digolongkan kejadian luar biasa," tutup Subuh.
Baca Juga: Cegah Difteri Meluas, Kemenkes Gelar Imunisasi Serentak
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi