Suara.com - Sejak dilahirkan, entah itu anak laki-laki dan perempuan akan lebih dekat pada ibunya. Hal ini dikarenakan segala kebutuhan hidupnya tentu bergantung pada ibu. Mulai dari pemenuhan ASI, makan, mandi, mengganti baju, dan sebagainya.
Akan tetapi, semakin bertambahnya usia, perbedaan kedekatan pada anak laki-laki dan perempuan pada salah satu orangtuanya terlihat lebih menonjol.
Hal ini menimbulkan stigma di masyarakat bahwa anak laki-laki cenderung lebih dekat dengan ibu, sementara anak perempuan ke ayahnya. Kondisi ini seperti mengartikan bahwa kedekatan anak pada orangtuanya mungkin didasari oleh persilangan gender. Benarkah demikian? Simak ulasan lengkap yang dihimpun Hello Sehat.
Alasan Anak laki-laki Cenderung Lebih Dekat ke Ibu
1. Lebih suka dimanja dan diperhatikan
Setiap anak memang akan mencari dukungan dan kenyamanan dari orangtua. Namun, setiap kali anak laki-laki menangis atau melakukan kesalahan, mereka akan memilih untuk lari ke ibunya untuk mencari perlindungan.
Ini dikarenakan sosok ibu cenderung lebih menenangkan dan memanjakan, bukan menghakimi kesalahan anak. Anak laki-laki cenderung takut atau segan mendekati sosok ayah, yang kebanyakan punya ekspektasi kurang realistis yaitu anak laki-laki harus kuat.
Padahal, terlepas dari jenis kelaminnya, baik anak perempuan maupun laki-laki sama-sama membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang sama.
2. Kedekatan anak laki-laki dengan ibu baik untuk kecerdasan emosionalnya
Anak-anak yang lebih dekat dengan ibu memang sering dicap sebagai “anak mama” yang penuh dengan stigma manja. Namun, mereka justru memiliki kecerdasan emosional yang lebih baik.
Dilansir dari Huffington Post, anak-anak yang memiliki ikatan yang kuat dengan ibunya cenderung tidak terlibat dalam geng di sekolah, penyalahgunaan narkoba, atau melakukan seks bebas di bawah umur.
Jika terlibat dengan masalah dengan temannya, mereka tidak akan memilih berkelahi dengan kekerasan, tapi memilih untuk berkomunikasi secara baik-baik.
Itulah sebabnya anak yang memiliki ikatan yang kuat dengan ibunya cenderung memiliki banyak teman di sekolah dan terhindar dari risiko depresi dan kecemasan. Pasalnya, mereka terlatih lebih mampu memahami perasaan orang lain, mudah untuk menjaga diri sendiri, dan lebih mudah mengendalikan emosinya.
Hingga ia dewasa nanti, anak laki-laki akan terbiasa untuk menghormati wanita karena hubungannya yang erat dengan ibunya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- Lipstik Merek Apa yang Mengandung SPF? Ini 5 Produk untuk Atasi Bibir Hitam dan Kering
- 7 Sepatu Lari Lokal Paling Underrated 2026: Kualitasnya Dipuji Runner, Tapi Masih Jarang Dilirik
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?
-
Waspada! 7 Jenis Tikus di Sekitar Rumah Ini Bisa Jadi Penyebab Hantavirus di Indonesia
-
4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awalnya, Ramai Dibahas usai Kasus MV Hondius
-
Hantavirus Apakah Sudah Ada di Indonesia? Ini Fakta dan Risiko Penularannya
-
Hantavirus Mirip Flu? Ketahui Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya
-
BPOM Catat 10 Kematian Akibat Campak, Akses Vaksin Inovatif Dikebut