Suara.com - Banyak perempuan tak lagi mengingat kapan mereka merasakan libido atau gairah seksual pada pasangan. Bahkan, dorongan seks tersebut bisa berhenti tiba-tiba beberapa menit sebelum mereka melakukannya.
Jika Anda termasuk salah satunya, tak perlu khawatir, Anda tidak sendirian. Anne Barbieri, M.D., seorang obgyn di Mount Sinai Medical Center mengatakan bahwa banyak orang dari berbagai usia datang ke kantornya dengan keluhan dorongan seks yang terhenti, mulai dari mereka yang berusia 20an atau 60an.
“Bagi sebagian orang yang mengalaminya, itu terjadi karena ketidakseimbangan hormon, tetapi itu tidak selalu terjadi, karena bisa saja terkait kesehatan fisik, keadaan emosi, gaya hidup dan kualitas hubungan,” katanya dilansir womenshealthmag.
Tapi, hal pertama yang bisa dibahas ketika berbicara tentang penyebab libido rendah, kata Barbieri, Anda harus memahami cara kerja dorongan seksual Anda.
Ia mengatakan bahwa kunci utama dari masalah rendahnya libido perempuan ada pada testosteron. Sebagai seorang perempuan, Anda memang tidak memiliki cukup hormon untuk menumbuhkan janggut, tetapi jumlah testosteron juga berperan dalam dorongan seksual, terutama tepat sebelum ovulasi (ketika Anda kemungkinan besar akan hamil).
Setiap bulan pada pertengahan siklus, kata Barbieri, otak perempuan mempersiapkan sel telur yang diciptakan oleh 50 persen testosteron tubuh untuk menghasilkan lonjakan atau hal-hal yang merangsang nafsu. Pada dasarnya, tubuh ingin Anda sibuk selama rentang waktu ini dengan optimal.
Testosteron juga memulai aliran darah yang menyebabkan vagina menjadi lebih bengkak dan sensitif. Ini mengarah ke lubrikasi dan orgasme.
Lantas, mengapa pada akhirnya Anda sulit untuk terangsang? Sherry Ross, M.D., ahli kesehatan perempuan dan penulis She-ology menjelaskan hasrat dan nafsu seksual perempuan dimulai di organ besar di atas bahu, bukan di bawah pinggang.
"Tekanan sehari-hari saat bekerja, keuangan, anak-anak, hubungan, dan berkurangnya energi adalah masalah umum yang berkontribusi pada rendahnya libido pada perempuan," ujarnya.
Baca Juga: Ingin Mudah Dapatkan Asuransi Kesehatan yang Tepat? Ini Caranya
Itu karena, lanjut Ross, ketika tubuh menghasilkan lebih banyak kortisol (hormon stres), maka akan menurunkan output testosteron.
Itulah sebabnya Barbieri sering menanyakan kepada pasien tentang faktor gaya hidupnya, seperti bagaimana saat pasiennya berkomitmen pada seseorang, berkomunikasi dengan pasangannya, dan merasa bahagia. Dan dia akan mencari tanda-tanda pelecehan emosional atau fisik juga.
Selanjutnya, kata dia, adalah gaya hidup dan jadwal. Jika seseorang kelelahan fisik dan mental, maka ini dapat menyebabkan libido rendah.
Beberapa faktor fisik lain yang dapat menyebabkan hormon Anda rusak adalah depresi (beberapa antidepresan dapat meredam dorongan seksual Anda), tekanan darah tinggi, BMI tinggi, kelebihan berat badan, dan kondisi medis seperti endometriosis, arthritis, dan menopause.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa
-
Olahraga Saat Puasa? Ini Panduan Lengkap dari Ahli untuk Tetap Bugar Tanpa Mengganggu Ibadah
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Bergerak dengan Benar, Kunci Hidup Lebih Berkualitas
-
Direkomendasikan Para Dokter, Ini Kandungan Jamtens Tangani Hipertensi dan Kolesterol
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata