Suara.com - Sebagian besar wanita Asia ingin supaya kulit mereka menjadi lebih putih, namun, tahukah Anda bahwa ada beberapa efek samping atau komplikasi dari perawatan pemutihan kulit.
Ini efek samping dan bahayanya menggunakan pemutih kulit dilansir Hello Sehat:
1. Pemutih kulit dari dokter biasanya adalah obat untuk penyakit kulit
Berbeda dari stereotip bahwa pemutihan kulit hanya sekadar untuk kecantikan, banyak dokter kulit yang sebenarnya meresepkan exfoliant untuk penyakit kulit, kepada pasien yang ingin memutihkan kulit. Biasanya yang diresepkan adalah obat pencerah kulit untuk mengobati penyakit kulit yang menyebabkan warna kulit tidak rata.
2. Pemutih kulit hanya megelupaskan kulit sel mati
Exfoliant bekerja dengan mengurangi pigmen yang disebut melanin, yaitu dengan menggunakan obat untuk bagian tubuh atau wajah yang lebih gelap dari yang lainnya. Produksi melanin diganggu untuk memungkinkan kulit menjadi bercahaya dan menjadi lebih rata.
Terkadang, produk pencerah kulit bisa mengandung exfoliant untuk exfoliating ringan. Karena kulit cenderung beregenerasi dengan cepat dan mudah, pengelupasan akan membantu membersihkan sel-sel kulit mati dan merevitalisasi lapisan yang lebih cerah di bawahnya, membuat kulit terlihat lebih cerah. Namun produk ini tidak dapat membuat warna kulit Anda lebih putih dari warna kulit alami Anda yang paling cerah.
3. Mencerahkan kulit dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya
Pada dermatologist sering menganjurkan hydroquinone jangka pendek. Tabir surya atau krim resep dengan dosis maksimal 2% ini memang sudah diizinkan oleh FDA, tetapi masih sedikit kontroversial. Reaksi alergi parah terhadap hydroquinone jarang terjadi.
Baca Juga: Daftar CPNS Resmi Dibuka, Begini Cara Cek Formasi di Portal SSCN
Terkadang kulit akan menjadi merah, kering atau gatal di area yang bermasalah.
obat ini juga dapat meningkatkan risiko kanker.
4. Pemakaian jangka panjang malah bisa menggelapkan kulit
Seluruh aktivitas pencerahan kulit akan memberikan hasil negatif, atau bahkan hasil paradoks. Dengan kadar obat yang lebih tinggi, telah didapati laporan banyak komplikasi. Contohnya, munculnya infeksi minyak eksogen, penggelapan kulit untuk waktu yang lama, dan kulit yang menjadi kebal terhadap pengobatan apapun.
Kemungkinan reaksi kulit bisa terjadi dalam dosis yang lebih rendah, tetapi risiko ini akan meningkat seiring bertambahnya dosis.
5. Ada pilihan pencerah kulit yang alami
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?