Suara.com - Pakar dari berbagai belahan dunia sepakat bahwa kebiasaan kurang tidur cukup selama 7-8 jam setiap malam dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun.
Maka, tidak heran setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur cukup, Anda jadi suka bingung sendiri dan sulit berpikir jernih.
Sebuah penelitian dari Binghamton University menemukan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kecemasan.
Teori ini menguatkan satu studi terdahulu yang melaporkan sekitar 27 persen pasien gangguan kecemasan diawali dengan insomnia yang membuat mereka tidak bisa tidur.
Risiko ansietas akibat kurang tidur dikaitkan dengan gangguan berpikir jernih akibat otak yang kelelahan. Sulit berpikir jernih menyebabkan otak cenderung menanam “bibit” pikiran negatif yang mengganggu dan dapat terus muncul berulang kali tanpa dipicu apa pun.
Kurang tidur juga menurunkan kemampuan Anda untuk mengendalikan perilaku karena fungsi pengendalian dalam otak tidak bisa bekerja dengan baik.
Semakin gangguan cemas terus dibiarkan menggerogoti jiwa, semakin Anda sulit tidur sehingga masalahnya bisa timbul makin parah seiring waktu. Pasalnya ketika Anda merasa cemas, otak akan terus memutar pikiran negatif tersebut layaknya rol film. Akibatnya, “Anda akan semakin menyibukkan diri untuk memikirkan hal itu sehingga tidak bisa tidur,” kata Rita Aouad, MD, seorang pakar kesehatan mental sekaligus pakar pengobatan masalah tidur dari Ohio State University Wexner Medical Center, seperti dikutip dari Prevention.
Termasuk juga gejala-gejala fisik yang menyertai ansietas seperti lemas dan pegal linu (akibat ketegangan otot), gangguan pencernaan seperti sakit perut atau mulas, sakit kepala, gemetaran, mulut kering, dan berkeringat deras.
Begadang sendiri bisa menyebabkannya, dan semua masalah ansietas fisik ini pun bisa makin parah akibat kurang tidur.
Baca Juga: Anomali Raksasa Eropa di Awal Musim Ini
Dampak begadang pada psikologis seseorang pada umumnya tidak akan langsung dirasakan begitu saja. Biasanya akan mulai muncul ketika otak sudah tidak lagi mampu menoleransi waktu istirahat yang teramat miskin.
Itu kenapa Meredith Coles, pemimpin penelitian sekaligus seorang dosen psikologi di Binghamton University, menekankan pentingnya memperbaiki pola tidur secepat mungkin jika Anda sudah terbiasa begadang dalam waktu lama.
Agar bisa tidur cukup dan nyenyak, Coles menyarankan Anda untuk “membersihkan” jadwal malam hari Anda dari rutinitas yang tidak penting dan bisa memicu stres, seperti tidak membiasakan main gadget dan tidak minum alkohol atau kafein sebelum tidur.
Sebagai gantinya, lakukanlah aktivitas yang menenangkan seperti meditasi atau lakukan teknik pernapasan.
Buat jadwal tidur teratur. Tidur dan bangun di waktu yang sama setiap hari, termasuk saat weekend, membantu ritme sirkadian bekerja lebih baik.
Jika Anda masih merasa kesulitan untuk tidur cukup meski sudah mengikuti langkah-langkah di atas, pertimbangkan untuk berkonsultasi ke dokter untuk mencari tahu cara tepat mengatasinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi