Suara.com - Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang berisiko kematian seiring dengan bertambahnya usia pasien, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun. Kanker kolorektal merupakan jenis kanker pada usus besar (kolon) atau bagian terbawah usus besar yang terhubung ke anus (rectum).
Meskipun penyebab kanker sangat kompleks, obesitas dikenal sebagai faktor risiko yang cukup signifikan, jadi makan makanan sehat dan seimbang, serta rendah gula dan asin, dapat meminimalisir risiko kematian.
Seperti dilansir dari Dailymail, Senin (22/10/2018) sekitar 1,4 juta orang di Amerika Serikat hidup dengan kanker kolorektal. Seiring bertambahnya usia, risiko kanker kolorektal pun meningkat, meski kini penderitanya juga umum menyerang orang yang lebih muda.
Nah, baru-baru ini penelitian menemukan diet sehat dapat membantu memperpanjang waktu bertahan hidup bagi penderita kanker kolorektal. Penelitian di American Cancer Society menunjukkan bahwa perubahan pola makan yang dilakukan setelah diagnosa kanker dapat membantu pasien menjalani hidup lebih lama.
Kanker kolorektal telah menjadi kanker paling umum keempat di AS, dan jumlah penderitanya melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Ini berarti berisiko merenggut nyawa orang yang muda lebih banyak dari sebelumnya. Setiap tahun, 1,4 persen lebih banyak orang di bawah usia 55 tahun meninggal karena kanker kolorektal. Oleh sebab itu, kini American Cancer Society merekomendasikan orang-orang untuk lebih fokus memperhatikan pola makan agar terhindar dari kanker.
Penelitian sejauh ini menunjukkan pola makan dan kebiasaan olahraga yang tidak baik, ‘minum’ dan merokok merupakan penyebab yang paling potensial. Dokter juga menduga bahwa ada hubungannya dengan mikrobioma usus, kandang bakteri yang hidup di usus dan ekosistem tersebut dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi.
Dr. Mark Guinter dan timnya menganalisis data pada 2.801 orang yang telah didiagnosis menderita kanker kolorektal terkait pola makan mereka. Hampir semua penderita adalah mereka yang memiliki pola makan tidak sehat dan gaya hidup tidak baik.
“Sekitar 20 persen pasien yang mengikuti anjuran ACS memiliki waktu hidup lebih panjang. Studi ini adalah yang pertama untuk menambah pengetahuan tentang kualitas diet bagi penderita kanker kolorektal. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas diet yang baik dapat menurunkan risiko kematian,” kata Dr Guinter.
American Cancer Society (ACS) sendiri menyarankan orang-orang untuk menghindari kelebihan lemak, hindari makanan dan minuman berkalori tinggi. Disarankan banyak makan buah, sayuran, dan membatasi jumlah daging merah atau olahan. Bersamaan dengan saran diet ini, ACS menyarankan setidaknya penderita berolahraga berat seminggu 150 menit dan menjaga pola tidur yang sehat dan teratur.
Baca Juga: Sandiaga Uno ke Santri Tebuireng: Kamu Mau Foto Bareng Saya?
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
Terkini
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya