Suara.com - Bedah Bariatrik, Penanganan Khusus untuk Kasus Obesitas Ekstrem
Obesitas merupakan salah satu penyakit yang dapat menurunkan angka harapan hidup seseorang. Hal ini dikarenakan obesitas dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit lain, seperti tingginya kadar kolesterol, diabetes mellitus, hipertensi, dan gangguan vaskular Iainnya.
Kasus obesitas sendiri dibedakan berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) dan terdiri dari empat kategori antara lain yaitu berat badan berlebih dengan IMT antara 23-24,9, obesitas tingkat 1 dengan IMT 25-29.9, obesitas tingkat 2 dengan IMT 30-37,4 dan obesitas morbid dengan IMT 37,5 atau lebih.
"Berat badan berlebih yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi obesitas morbid dengan risiko gangguan kesehatan yang semakin tinggi," ujar Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp. B-KBD, dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif RS Pondok lndah, dalam temu media di Jakarta, Kamis (14/3/2019).
Lebih lanjut dr Peter menjelaskan, salah satu tindakan penanganan untuk kasus obesitas adalah bedah bariatrik. Tindakan ini dapat dilakukan apabila pasien sudah dikategorikan sebagai obesitas morbid dan memiIiki indeks massa tubuh yang tinggi.
Selain diperuntukkan bagi para pasien obesitas morbid bedah bariatrik juga dapat dimanfaatkan untuk membantu pasien yang memiIiki indeks massa tubuh sedang, namun mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit diabetes dan hipertensi.
Namun, yang harus diingat, meski mampu menurunkan bobot tubuh dengan cepat, bedah bariatrik bukanlah peluru emas, tindakan ini hanya sebagai pendukung.
"Faktor utama keberhasilan bariatrik adalah komitmen dan konsistensi yang kuat dari pasien untuk mengubah gaya hidup mereka seumur hidup," imbuh dr Peter.
Bedah bariatrik yang paling sering dilakukan kata dia, adalah sleeve gastrectomy, bypass Iambung dan ikat lambung. Ketiga tindakan ini sama-sama memiIiki hasil akhir penurunan berat badan karena berubahnya bentuk organ pencernaan pasien sehingga memengaruhi pola makan dan penyerapan makanan di dalam tubuh.
Baca Juga: Gara-Gara Ikuti Tips Beauty Influencer, Wajah Nindy Ayunda Jadi Tak Karuan
"Sleeve gastrectomy merupakan tindakan pemotongan lambung pasien kurang lebih sebanyak 85 persen sehingga didapatkan ukuran lambung yang Iebih kecil, bypass lambung merupakan tindakan penggabungan bagian atas lambung dengan usus kecil sehingga makanan tidak Iagi melewati lambung dan tidak banyak kalori makanan yang diserap, dan ikat lambung merupakan tindakan pemasangan karet pengikat pada lambung yang bersifat adjustable sehingga pasien dapat menentukan berapa banyak porsi makanan yang ingin dikonsumsi," imbuh dia.
Sebelum melakukan tindakan, pasien kata de Peter harus menjalani pemeriksaan awal antara lain pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan jantung, dan endoskopi untuk melihat kondisi lambung.
Pemeriksaan ini akan menentukan layak tidaknya seseorang menjalani prosedur bariatrik dan juga menjadi faktor penentu tindakan bedah bariatrik apa yang sesuai untuk dilakukan.
Pasien juga diimbau untuk menjalani diet rendah kalori selama sekitar sepuluh hari sebelum tindakan, manfaatnya adalah untuk mengecilkan organ hati yang letaknya terkadang menutupi lapangan pandang daerah bedah. Pasien pun diwajibkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik dan dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik, dan diabetes pada saat sebelum dan sesudah tindakan bariatrik.
“Bagi pasien obesitas morbid yang membutuhkan penurunan berat badan secara ekstrim, bedah bariatrik memiliki berbagai kelebihan, salah satunya dapat menurunkan berat badan dengan Iebih cepat dan relatif menetap. Dengan menggunakan minimal invasive laparoscopy, pasien pun akan merasakan nyeri yang Iebih minimal, juga risiko komplikasi tindakan yang Iebih rendah, sehingga masa rawat inap di rumah sakit akan Iebih singkat," lanjut dr Peter.
Tak hanya menurunkan berat badan, bedah bariatrik kata dr Peter juga dapat menjadi solusi bagi pasien yang memiliki riwayat diabetes. Oleh karena efektivitasnya terhadap penyakit diabetes ini, bedah bariatrik juga sering disebut dengan bedah metabolik.
Berita Terkait
-
Cerita Naufal, Obesitas dengan Berat 238 Kg yang Jalani Operasi Bariatrik
-
Makan Banyak Tapi Nggak Kenyang-Kenyang, Mungkin Ini Alasannya!
-
Obesitas Hingga Cedera, Perempuan Salahkan Suaminya yang Jago Masak
-
Manfaat Jahe untuk Penderita Asam Lambung, Bisa Dicampur pada Makanan
-
Ada Kaitan Obesitas Anak dengan Pemberian Susu Formula, Ini Studinya
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan