Suara.com - Seringkali seseorang memilih untuk bangun siang di akhir pekan dengan maksud untuk menebus kekurangan tidur yang dialaminya di hari kerja. Namun, cara tersebut ternyata salah. Sebuah penelitian baru menyebutkan bahwa tidur panjang di akhir pekan tidak dapat menggantikan waktu tidur yang kurang sebelumnya.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan bahwa sekitar sepertiga dari semua orang dewasa di Amerika Serikat tidak memenuhi ambang batas yang disarankan untuk waktu tidur, yang dinyatakan oleh pedoman CDC setidaknya 7 jam per malam.
Kurang tidur dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk gangguan tidur. Tetapi sering kali kurang tidur disebabkan oleh stres sehari-hari, terlalu banyak pekerjaan, atau kehidupan yang sibuk.
Ada hubungan yang kuat antara kurang tidur dan peningkatan risiko terhadap gangguan metabolisme tertentu, termasuk obesitas, diabetes, dan masalah kardiovaskular.
Sebelumnya, dalam Journal of Sleep Research, disebutkan bahwa utang tidur dapat dibayar dengan tidur panjang di akhir pekan. Namun, sebuah studi baru yang temuannya muncul di Current Biology, bertentangan dengan kesimpulan di atas. Penelitian baru justru menunjukkan bahwa tidur panjang di akhir pekan tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh kurang tidur selama seminggu.
"Pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa pemulihan tidur di akhir pekan tampaknya bukan strategi yang efektif untuk membalikkan gangguan metabolisme yang disebabkan oleh kurang tidur," kata pemimpin studi Kenneth Wright dari Universitas Colorado Boulder.
Dalam penelitian ini, peneliti merekrut 36 peserta dewasa muda yang sehat dan membaginya menjadi tiga kelompok:
- kelompok yang hanya akan tidur 5 jam per malam sepanjang minggu dan akhir pekan
- kelompok yang akan tidur 5 jam per malam sepanjang minggu, diikuti oleh tidur yang tidak dibatasi pada akhir pekan, dan kemudian 2 malam dari tidur 5 jam
- kelompok kontrol, yang anggotanya dapat tidur hingga 9 jam setiap malam selama minggu dan akhir pekan
Para peneliti menemukan bahwa semua peserta yang harus membatasi tidur mereka selama seminggu mengalami kebiasaan ngemil setelah makan malam, yang juga menyebabkan kenaikan berat badan.
Namun, peserta studi yang menikmati tidur panjang di akhir pekan mengasup lebih sedikit kalori saat ngemil setelah makan malam dibandingkan mereka waktu tidurnya terus terbatas.
Namun demikian, bahkan setelah memiliki kesempatan untuk tidur di akhir pekan, orang-orang yang kembali ke pola tidur terbatas selama seminggu terus mengalami disregulasi pada jam tubuh mereka. Mereka melanjutkan kebiasaan ngemil setelah makan malam dan terus menambah berat badan.
Baca Juga: Ahli Tidur dari Australia Sebut Netflix Sebabkan Orang Kurang Tidur
Dan dalam hal perubahan metabolisme spesifik, para peneliti memerhatikan bahwa partisipan yang membatasi tidur mereka setiap malam memiliki sensitivitas insulin yang lebih rendah, yaitu mengalami penurunan sekitar 13 persen.
Sensitivitas insulin yang tinggi biasanya merupakan penanda kesehatan yang baik, sedangkan sensitivitas yang rendah terhadap hormon (disebut resistensi insulin) dapat mengindikasikan kondisi diabetes.
Penurunan sensitivitas insulin di antara partisipan dalam kelompok tidur terbatas tidaklah mengejutkan, tapi hal ini juga ternyata dialami oleh para peserta yang diperkenankan tidur lebih lama pada akhir pekan. Mereka masih memiliki sensitivitas insulin yang lebih rendah dari biasanya.
"Temuan kami menunjukkan bahwa sensitivitas insulin spesifik di otot dan di hati, lebih buruk pada mereka yang tidur panjang di akhir pekan," kata peneliti utama Christopher Depner, yang menambahkan bahwa temuan ini juga mengejutkan bagi tim peneliti.
"Temuan ini tidak diantisipasi dan lebih lanjut menunjukkan bahwa pemulihan tidur di akhir pekan ternyata tidak bisa menjadi penanggulangan kekurangan waktu tidur yang efektif," tambahnya seperti dilansir dari Medical News Today.
Di masa depan, tim peneliti bertujuan untuk mengeksplorasi lebih lanjut apakah strategi mengejar kekurangan tidur, termasuk tidur siang, dapat memperbaiki kekurangan waktu tidur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi