Suara.com - Minuman Diet Kola yang Rendah Kalori Ternyata Juga Tak Baik Bagi Kesehatan.
Dari dulu, banyak dokter dan ilmuwan merasa khawatir dengan campuran antara pemanis buatan dan pengawet pada minuman ringan kola karena diduga dapat memiliki implikasi neurologis.
Padahal mengurangi konsumsi minuman ringan sering dipromosikan sebagai solusi jitu dalam mengurangi kalori dalam tubuh.
Hal itu terjadi karena kola mengandung tinggi gula dengan takar gula rata-rata sembilan sendok teh per sajian.
Tapi kini kola juga diproduksi versi dietnya atau yang sering kita jumpai dengan nama minuman Diet Coke.
Minuman Kola tersebut diklaim menawarkan semua kepuasan minuman bersoda seperti manis berkarbonasi namun diproduksi rendah gula dan kalori.
Mengutip News.com.au, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari George Washington University mengatakan bahwa diet coke ternyata bukan solusi untuk pengendalian kalori.
Lewat studi tersebut, peneliti menemukan mereka yang secara teratur minum diet coke dan minuman diet lainnya sebagai bagian dari diet harian mereka, telah mengonsumsi rata-rata 200 kalori ekstra setiap hari.
Studi ini mendasarkan hasilnya pada catatan diet lebih dari 7000 anak-anak dan remaja AS.
Baca Juga: Lelaki Perancis Ini Minum Coca-Cola Campur Tikus Mati, Begini Kondisinya
Ditemukan anak-anak yang secara teratur mengonsumsi minuman ringan diet coke telah mengonsumsi rata-rata 196 kalori ekstra per hari, sementara mereka yang mengonsumsi minuman ringan secara teratur mengonsumsi rata-rata 312 kalori ekstra per hari.
Studi ini membandingkan dengan mereka yang mengonsumsi air sebagai cairan pilihan harian saja.
Peneliti tidak secara khusus mengaitakan kebiasaan tersebut dengan kenaikan berat badan. Tapi para peneliti mencatat bahwa mereka yang mengonsumsi diet coke secara rutin juga mengonsumsi lebih banyak gula tambahan dalam makanan mereka.
Ini yang pada gilirannya, akan menjadi jalan masuk asupan gula yang lebih tinggi secara keseluruhan dan kenaikan berat badan jangka panjang.
Salah satu nilai jual yang kuat dari minuman diet adalah kadar gula dan kalori yang rendah atau nol.
Kata peneliti, hasil dari penelitian ini memberikan pesan sederhana. Tidak ada alasan baik jika Anda sering minum minuman dietkola ini. Intinya, semakin sedikit kita minum, maka semakin baik.
Minum air putih dan kurangi mengonsumsi gula. Hal tersebut dapat memberikan manfaat positif bagi berat badan dan kesehatan Anda.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun