Suara.com - Ilmuwan Beberkan Bahaya Tersembunyi Polusi Udara
Asap knalpot, debu jalanan, asap rokok, hingga asap dari pabrik dan pembangkit tenaga listrik sudah jadi makanan sehari-hari warga ibu kota. Ya, polusi dan pencemaran udara seakan tak bisa dipisahkan dari kehidupan metropolitan di kota Jakarta.
Padahal, ancaman polusi udara untuk kesehatan bukan omong kosong. Ilmu sains sudah membuktikan sederet bahaya polusi udara, baik itu bahaya yang tampak, maupun dampak jangka panjang yang tersembunyi.
Pada 2010, peneliti perubahan iklim dan kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Profesor Dr. Budi Haryanto SKM, MSPH, MSc., menerbitkan penelitian ilmiah yang berjudul "Climate Change and Urban Air Pollution Health Impacts in Indonesia".
Dalam penelitian yang bisa diakses secara bebas di situs ResearchGate ini, tercatat bahwa kasus pencemaran udara merupakan penyumbang 57,8 persen kasus pesakitan di seluruh populasi masyarakat Jakarta.
Di sisi penyakit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, bronkitis, serta iritasi kulit dan mata menjadi penyakit bersumber pencemaran udara yang mengharuskan masyarakat berobat ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
"Polusi udara terbukti menjadi ancaman bahaya yang tinggi bagi penduduk Jakarta, terlepas dari status sosio-ekonominya," tulis Prof Budi dalam penelitiannya.
Secara terpisah, Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) kepada Suara.com mengatakan polutan sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni komponen gas dan komponen partikel.
Baca Juga: Greenpeace: Pemerintah Tidak Pernah Serius Atasi Polusi Udara
Komponen gas merupakan polutan yang rentan menyebabkan iritasi. Sementara komponen partikel bertanggung jawab terhadap kerusakan jangka panjang, karena rentan masuk ke dalam aliran darah tubuh melalui saluran pernapasan.
Dampak jangka pendek yang disebabkan oleh polutan antara lain iritasi kulit, iritasi hidung dan iritasi mata. Iritasi juga bisa terjadi di bagian lain dan menyebabkan sakit tenggorokan hingga peradangan dan pembengkakan saluran napas.
"Kalau ini berlanjut dampaknya bisa merangsang terjadinya risiko ISPA," ungkap dr. Agus.
Untuk dampak jangka panjang, efeknya bisa baru akan terasa hingga 5-10 tahun ke depan. Hal ini dikarenakan penurunan fungsi paru yang terjadi secara perlahan, dan meningkatkan risiko terjadinya asma, penyakit paru obstruktif kronik, hingga kanker paru.
Bukan Cuma Berbahaya untuk Paru
Sekilas, kesehatan paru-paru dan saluran pernapasan merupakan hal yang paling terdampak dari memburuknya polusi udara. Wajar, mengingat saluran pernapasan terkena dampak langsung polusi, mulai dari iritasi hingga pengendapan partikel yang memicu penyakit.
Namun menurut pakar, bahaya polusi udara tidak hanya untuk kesehatan paru-paru dan saluran pernapasan. Berbagai studi dan penelitian ilmiah sudah membuktikan jika polusi udara juga berbahaya bagi organ tubuh lain, termasuk otak, sistem metabolik, jantung, hingga alat kelamin.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Diabetes Care, paparan PM2,5 dalam jumlah tinggi disebut meningkatkan risiko terserang diabetes. Studi yang dilakukan oleh Center for Occupational and Environmental Health di the University of California, Los Angeles, menyebut PM2,5 yang masuk ke aliran darah menyebabkan terjadinya resistensi insulin, salah satu faktor utama diabetes.
Paparan PM2,5 juga berbahaya untuk otak. Seperti dijelaskan sebelumnya, ukuran PM2,5 yang sangat kecil memungkinkannya untuk masuk ke dalam jaringan pembuluh darah di otak. Studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet Neurology menyebut, 30 persen pasien stroke yang mengalami disabilitas dikaitkan dengan polusi udara. Risiko lebih besar terjadi jika Anda tinggal di negara berkembang.
Polusi udara juga sudah lama dikaitkan dengan penyakit gagal jantung. Dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Queen Mary University of London, Inggris, polusi udara bisa menyebabkan perubahan pada struktur jantung. Paparan PM2,5 dan PM10 diketahui membuat ukuran bilik jantung membesar, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gagal jantung.
Yang terbaru, paparan polusi udara juga berpengaruh terhadap kesehatan alat kelamin lelaki. Studi yang diterbitkan di The Journal of Sexual Medicine menyebut risiko disfungsi ereksi meningkat akibat paparan polusi udara. Meski penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Guangzhou University di China menggunakan tikus sebagai partisipan, pesan utama bahwa polusi udara berbahaya bagi kesehatan seksual tak boleh diabaikan.
Lantas, apalagi dampak buruk yang ditimbulkan dari polusi udara? Simak ulasannya di halaman berikutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?