- Amnesty International menyoroti tewasnya warga sipil Melkiana Dwitau akibat konflik bersenjata antara aparat dan TPN-PB di Papua.
- Usman Hamid mendesak pemerintah menghentikan pengerukan kekayaan alam yang memicu kekerasan serta beralih menggunakan pendekatan dialog damai.
- Pemerintah diminta transparan mengusut keterlibatan aparat dalam berbagai kasus kekerasan agar keadilan bagi masyarakat Papua dapat terwujud.
Suara.com - Amnesty International Indonesia menanggapi maraknya kasus kekeresan dalam konflik di Papua. Yang terbaru, seorang ibu hamil Melkiana Dwitau yang tewas tertembak peluru akibat perseturuan aparat Indonesia dan TPN-PB.
Direktur Ekstekutif Usman Hamid mengatakan, cara pandang ekonomi ekstraktif di Papua harus dihentikan. Karena sejauh ini hal tersebut justru menimbulkan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan aparat.
"Harus dihentikan itu pengerukan kekayaan alam yang merusak dan mendatangkan bencana. Dan seringkali dijalani dengan bentuk kekerasan," kata Usman saat ditemui Suara.com pada Kamis (16/7/2026).
Untuk mengangani persoalan, Usman menyarankan pemerintah seharusnya menerapkan pendekatan secara dialog ketimbang pendekatan keamanan.
Sebab pendeketan keamanan justru menyebabkan korban yang terus berjatuhan.
"Kita punya pengalaman di Aceh," katanya.
Selain itu seharusnya pemerintah dapat transparan untuk membuka kasus-kasus mekerasan yang melibatkan aparat.
Ia bercerita soal temuan Tim Gabungan Pencari Fakta mengenai kasus pembunuhan pendeta Yeremia Zanambani justru melibatkan tokoh militer sebagai pelaku.
"Selama kasus tidak ada yang dibongkar, yakinlah pasti aparat yang terlibat," tambahnya.
Baca Juga: Izin Freeport Diperpanjang hingga 2061, Legislator PDIP Tagih Kontribusi Nyata untuk Papua
Oleh karenanya, yang dibutuhkan pemerintah saat ini adalah kemampuan dan untuk mendengar kemauan masyarakat asli Papua. (Reporter: Alif Bintang)
Berita Terkait
-
Izin Freeport Diperpanjang hingga 2061, Legislator PDIP Tagih Kontribusi Nyata untuk Papua
-
32 Tahun Jadi Guru, Mimpi Isayas Tigi Lihat Sekolah Gratis di Papua Tengah Akhirnya Terwujud
-
Kabar Gembira! 58.920 Siswa di Papua Tengah Bisa Sekolah Gratis, Termasuk Biaya Asrama
-
Sudah 59 Nyawa Melayang! Komnas HAM Tagih Janji Pemerintah Urus 100 Ribu Pengungsi Papua
-
Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Inilah 4 Resep Rendang Daging Sapi yang Gurih dan Empuk!
-
Alam Dikeruk Nyawa Melayang, Ekonomi Ekstraktif Disebut Jadi Pemicu Konflik Berdarah di Papua
-
Pulang ke Kampung Halaman, Rosyidah Sukses Kembangkan Usaha Hasil Laut Berkat Dukungan BRI
-
3 Sunscreen Korea Terbaik untuk Flek Hitam sesuai Review dan Harga
-
Termasuk Semifinal Kali Ini, Argentina Sudah 3 Kali Singkirkan Inggris dengan Menyakitkan!
-
Berbekal KUR BRI, Eks PMI Asal Indramayu Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut
-
Panduan Lengkap Memahami Status Rekening Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant BRI
-
Dari Negeri Rantau ke Pesisir Indramayu, Rosyidah Bangun Usaha Olahan Laut Bersama BRI
-
Pukul, Tendang lalu Menyeret: Sadisnya Oknum Satpam Aniaya Karyawati di Bintan
-
Pulang dari Malaysia, Eks PMI Asal Indramayu Sukses Bangun UMKM Berkat Dukungan BRI