Suara.com - Di media sosial sedang viral sebuah video yang memperlihatkan lima orang siswi sedang 'pesta lem' di dalam sebuah kamar tertutup.
Diketahui video ini awalnya diunggah oleh pengguna Facebook Aldiyanto di grup Facebook Tim Paniki Polresta Manado. Dan seketika video ini sudah tersebar di berbagai platform media sosial, salah satunya Instagram.
Tetapi sayangnya hingga kini belum diketahui pasti identitas dari siswi-siswi ini.
Mengirup zat pelarut seperti lem adalah tindakan yang berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kematian jika overdosis.
Praktik seperti ini disebut dengan inhalansia dan umumnya digunakan remaja sebagai alternatif murah dan mudah untuk mendapatkan sensasi 'mabuk'.
Efek jangka pendek dan jangka panjang dari inhalansia ini bertindak langsung pada sistem saraf untuk menghasilkan efek 'mengubah pikiran'. Dalam hitungan detik, pengguna dapat mengalami keracunan dan efek lain yang mirip seperti menggunakan 'narkoba'.
Berdasarkan Drug Free World, ada beberapa efek yang dialami pengguna selama atau tidak lama setelah inhalansia.
- Bicara tidak jelas
- Merasa mabuk, pusing atau linglung
- Ketidakmampuan untuk mengoordinasikan gerakan
- Halusinasi dan delusi
- Apati
- Tidak sadar
- Sakit kepala parah
Mengirup bahan kimia dalam zat pelarut ini dalam waktu lama dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur dan cepat. Bahkan bisa mengakibatkan gagal jantung hingga kematian dalam beberapa menit.
Baca Juga: Ketahui Gejala dan Risiko dari Overdosis Hirup Lem
Sedangkan untuk penggunaan jangka panjang akan memiliki dampak seperti di bawah ini.
- Kelemahan otot
- Disorientasi
- Kurang koordinasi
- Sifat lekas marah
- Depresi
- Kerusakan serius dan terkadang ireversibel pada jantung, hati, ginjal, paru-paru dan otak
- Gangguan memori dan kecerdasan berkurang
- Gangguan pendengaran
- Kerusakan sumsum tulang
- Kematian karena gagal jantung atau sesak napas (kehilangan oksigen)
Penggunaan kronis inhalansia telah dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan yang serius. Menghirup lem dan pengencer cat menyebabkan masalah ginjal.
Berita Terkait
-
BEI Buka Data Kepemilikan Saham di atas 1 Persen
-
Tak Lakukan RUPS dan Diduga Gelapkan Dana, Dirut Wanteg Sekuritas Dicopot Sementara
-
Sentil Janji 19 Juta Lapangan Kerja Gibran, Siapa Otak Sinetron Para Pencari Tuhan?
-
Stres Karena Potongan Lagu Terus Berputar di Kepala? Ini Penjelasannya!
-
Harus Hati-hati, Penerapan Free Float 15 Persen Bisa Tekan Harga
Terpopuler
Pilihan
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
Terkini
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital