Suara.com - Aspirin atau asam asetil salisilat adalah bentuk olahan senyawa salisin yang terdapat dalam banyak tumbuhan. Aspirin ini berkerja dengan menghambat enzim yang memproduksi dan mengatur kerja prostaglandin.
Prostaglandin merupakan senyawa yang diproduksi saat terjadi peradangan.
Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of North Carolina menunjukkan aspirin dapat membantu pasien kanker payudara untuk hidup lebih lama.
Melansir Daily Mail, aspirin untuk pasien kanker bekerja dengan cara meredam peradangan. Kemungkinan alasannya adalah karakteristik genetik dari tumor dan sang pasien.
Bukti mereka yang diterbitkan di jurnal CANCER pada Selasa (12/8/2019) menunjukkan bahan kimia dalam aspirin dapat memengaruhi metilasi DNA.
Metilasi DNA adalah proses penambahan gugus metil pada DNA, melansir isainsmedis.id.
Dalam beberapa hal, ini mungkin bekerja dengan baik, menghambat tumor, dan memperkuat pertahanan tubuh, tetapi pada yang lain mungkin justru sebaliknya.
"Peradangan kronis adalah pemain kunci dalam pengembangan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara," kata penulis pertama Tengteng Wang, yang memimpin penelitian ini.
Aspirin adalah obat anti-inflamasi nonsteroid utama yang memiliki sifat anti-inflamasi. Mengingat hal ini, bukti substansial dari penelitian laboratorium dan populasi menunjukkan bahwa mengambil aspirin dapat mengurangi risiko kanker payudara.
Baca Juga: Jangan Menyerah, Ini Cara Hilangkan Komedo dengan Clay Mask dan Aspirin
Ini adalah proses yang telah kita ketahui selama beberapa dekade, tetapi baru pada abad ke-21 para ilmuwan mulai menggambar hubungan yang lebih kuat antara metilasi DNA dan penyakit. Dan bagaimana obat yang diresepkan secara umum dapat berperan.
Hasil dari penelitian terhadap 1.266 pasien di Long Island Breast Cancer Study, sebanyak 476 telah meninggal yang 202 di antaranya meninggal karena kanker payudara.
Tim menemukan beberapa pasien yang menggunakan aspirin memiliki risiko kematian yang lebih rendah, tetapi hanya jika DNA mereka tidak dimetilasi di wilayah yang mengendalikan gen BRCA1.
Gen BRCA1 merupakan gen keturunan yang berkaitan erat dengan kanker payudara dan ovarium. Untuk mengetahui apakah seseorang membawa gen ini adalah dengan tes BRCA1 dan BRCA2.
Berita Terkait
-
Menkes Budi: Cowok Perokok Red Flag, Perempuan Bakal Tanggung Risiko Kanker
-
Inovasi Terapi Kanker Kian Maju, Deteksi Dini dan Pengobatan Personal Jadi Kunci
-
Kisah Pasien Kanker Payudara Menyebar ke Tulang, Pilih Berobat Alternatif Dibanding Kemoterapi
-
Mitos atau Fakta: Biopsi Bisa Bikin Kanker Payudara Menyebar? Ini Kata Ahli
-
Gerakan Peduli Kanker Payudara, YKPI Ajak Perempuan Cintai Diri Lewat Hidup Sehat
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026