Suara.com - Pencemaran dan polusi udara telah terbukti menyebabkan beberapa kondisi medis akut dan kronis, mulai dari gangguan pernapasan, masalah jantung, otak, bahkan memengaruhi kesehatan ibu hamil.
Bukan cuma itu, dilansir dari Times of India, polusi dan pencemaran udara yang berbahaya ini ternyata juga bisa merusak kesehatan mental seseorang.
Menurut sebuah jurnal yang diterbitkan dalam Lippincott Portfolio oleh Wolters Kluwer, kerusakan partikel-partikel udara dapat mempengaruhi kesehatan mental para remaja.
Untuk melakukan penelitian ini, 144 remaja diberikan tes stres sosial yang meliputi pidato lima menit dan tes matematika. Yang mengejutkan, setelah mempelajari detak jantung remaja dan respons tubuh lainnya, ditemukan bahwa remaja dengan respons otonom yang lebih tinggi terhadap stres, juga mengalami peningkatan kadar PM 2,5 (partikel halus di udara yang ukurannya 2,5 mikron atau lebih kecil) di dekat rumah mereka.
Meski hubungan antara udara yang tercemar dan stresor yang lebih besar belum dijelaskan, tetap saja penelitian ini membuat kita harus mengingat bahwa udara beracun juga dapat merusak perkembangan saraf dan fungsi kognitif.
Sebuah laporan berbeda yang diterbitkan dalam Ochsner Journal juga mengatakan hal lain dari dampak pencermaran dan polusi udara.
Menunjuk data dari China yang diterbitkan pada tahun 2018, setiap peningkatan 1 standar deviasi dalam hal partikulat pada konsentrasi PM 2,5, akan meningkatkan kemungkinan seseorang memiliki penyakit mental (termasuk depresi) sebesar 6,67 persen.
Karenanya, udara beracun tidak hanya membuat paru-paru Anda terganggu, tetapi juga berdampak pada cara Anda berpikir.
Lantas, bagaimana untuk meminimalkan paparan pencemaran dan polusi udara? Para dokter sangat menyarankan agar Anda bisa menghindari pergi keluar rumah, kecuali saat benar-benar diperlukan.
Baca Juga: 4 Hal yang Dapat Dilakukan Sekarang untuk Melawan Depresi
Mereka juga menyarankan agar saat udara sedang buruk atau beracun, berhentilah olahraga di luar ruangan dan menghindari olahraga berat yang menyebabkan pernapasan lebih cepat.
Langit yang kelabu dan udara beracun membuat napas kita terasa sesak. Ini pasti akan membuat kita merasa stres dan pada akhirnya berkontribusi pada suasana hati rendah.
Lebih penting lagi, fokuslah pada apa yang perlu Anda lakukan. Dari membatasi penggunaan mobil, menggunakan transportasi umum, menanam lebih banyak pohon, sepenuhnya menghindari pembakaran sampah, dan banyak hal lainnya yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi pencemaran udara di sekitar Anda.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
Terkini
-
Orang Tua Waspada! Ini Tanda Gangguan Pertumbuhan pada Anak: Pengaruh Hingga Dewasa
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi