Suara.com - Terobosan Baru, Cek Gejala Penyakit dengan Bantuan Teknologi AI
Industri 4.0 menuntut digitalisasi di semua lini kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI pun sudah merambah sektor pelayanan kesehatan.
Terobosan baru pun dibuat, di mana teknologi AI bisa membantu dokter dan masyarakat mengenali gejala penyakit yang dirasakan. Harapannya, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi dokter dalam menangani pasien.
dr Kafi Khaibar Lubis dari Prixa menyebut saat ini, rasio dokter dan pasien yang timpang masih menjadi masalah dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Prixa hadir memberikan bantuan agar masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan bisa memeriksa gejalan terlebih dahulu, sebelum memutuskan pergi ke dokter.
"Karena ada beberapa penyakit yang dengan perawatan home cara saja sudah sembuh, gak perlu ke dokter. Atau dengan ke klinik dan puskesmas saja sembuh, tanpa perlu ke IGD," ujar Kafi, dalam temu media di Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).
"Dengan begitu dokter bisa fokus menangani pasien yang memang benar-benar membutuhkan pelayanan. Kami hadir tidak untuk menggantikan dokter, tapi membuat dokter menjadi lebih efisien," ujarnya.
Lalu, bagaimana teknologi AI di Prixa bekerja? Dijelaskan Kafi, masyarakat hanya perlu mengakses Prixa.ai untuk kemudian mendapatkan bantuan.
Masyarakat akan diminta mengisi riwayat kesehatan, tinggi badan, berat badan, dan gejala masalah kesehatan yang dialami. Setelah itu, teknologi AI akan mengerucutkan gejala Anda menjadi 4 kemungkinan penyakit lewat sistem tanya jawab otomatis.
Masyarakat hanya diminta memilih ya, tidak, atau tidak tahu dari pertayaan gejala penyakit yang ditampilkan. Setelah itu, akan keluar kemungkinan masalah kesehatan yang dialami dengan probalitas tinggi hingga sedang.
Baca Juga: Microsoft Kembangkan Teknologi AI Pendeteksi Kanker Serviks
"Misal kita input gejala awal batuk, nanti akan ditanya apakah ada pusing, demam, hidung tersumbat, dan lain-lain. Setelah itu algoritma AI akan menampilkan gejala masalah kesehatan yang dialami," tuturnya lagi.
Dikatakan Kafi, algoritma Prixa sendiri mampu menyebutkan lebih dari 600 penyakit dan gejalanya, berdasarkan literatur kesehatan. Database gejala penyakit Prixa katanya pun sudah diverifikasi oleh dokter-dokter profesional.
CEO Prixa, James Roring, MD mengatakan visi Prixa adalah memberikan jaminan ketenangan masa depan bagi generasi penerus, dengan menjadi perusahaan teknologi pertama yang menyediakan platform manajemen kesehatan terpadu.
"Sebagai perusahaan Indonesia, kami melihat bagaimana Prixa dapat memberikan dampak secara positif dalam memperbaiki keseluruhan manajemen kesehatan di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi kami," ujarnya.
Ke depannya, James mengatakan Prixa akan bekerja sama dengan sektor asuransi, penyedia layanan kesehatan, hingga perusahaan yang bergerak di bidang konsumen untuk memaksimalkan layanannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan