Suara.com - Kemendikbud Pakai Konsep Ki Hajar Dewantara Perkuat Karakter Usia SD
Belajar selagi kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah besar bagai melukis di atas air'. Seperti ungkapan tersebut, para ahli memang banyak yang membenarkan jika pendidikan karakter haruslah dimulai sedini mungkin termasuk di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Sadar hal itu, maka Kemendikbud sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter anak di usia dini, kementerian yang dipimpin Nadiem Makarim ini, akan maksimalkan pendidikan karakter dengan porsi 70 persen dibanding pengetahuan umum.
"Iya memang perlu, karena SD ini sesuai dengan Perpres-nya presiden 87 tahun 2017, kita itu kan 70 persen untuk penguatan pendidikan karakternya untuk SD ya," ujar Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kemendikbud Dr. H. Khamim, M.Pd di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (19/12/2019).
Uniknya, dalam penerapannya Kemendikbud menggunakan konsep Ki Hajar Dewantara yakni olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga yang dipercaya mampu mengintegrasikan atau menggabungkan sistem pembelajaran dan pendidikan karakter yang ada.
"Jadi di situ ada literasinya, sehingga kita harapkan menggunakan konsepnya Ki Hajar Dewantara dengan olah hati, secara kecerdasan spiritual dia punya," papar Dr. Khamim.
Meski kemampuan spiritual di utamakan, dalam hal ini nilai-nilai agama karakter yang diperkuat melalui hubungan dia dengan tuhannya, apakah perbuatan boleh tidak dilakukan, berdosa atau tidak. Menyusul kemudian olah rasa, dimana anak-anak belajar tentang nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan, serta etika kemanusiaan.
Selanjutnya, yakni kemampuan berpikir pengetahuan dan intelektual, dilanjut kemampuan bergerak secara fisik, karena biar bagaimanapun manusia haruslah aktif bergerak agar sehat. Meski otak mampu berpikir, tapi tanpa fisik yang sehat semuanya akan percuma dan tetap jadi beban negara.
"Yang kedua olah rasa kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional dan sosialnya. Kemudian olah pikir dengan kecerdasan intelektualnya, kemudian olah raga kecerdasan estetiknya," jelasnya.
Baca Juga: Kemendikbud Pakai Peran Duta Cilik Sebarkan Semangat Belajar Anak-Anak SD
"Itu harapan kita dengan 4 hal ini paling tidak anak-anak kita insya allah cerdas tapi spiritualnya bagus, dia memiliki kemampuan hebat," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat