Suara.com - Vagina bau pastilah akan membuat pemiliknya merasa resah dan gelisah. Apalagi jika baunya tajam dan menusuk, seperti bau bawang, misalnya. Meski pada dasarnya aroma dan bau-bauan pada alat kelamin, khususnya vagina, adalah hal yang normal, tetap saja kita harus punya tolok ukur bau seperti apa yang normal dan yang tidak normal. Takutnya, bau tertentu pada vagina jadi tanda masalah serius, seperti terjadinya infeksi. Atau bisa jadi ada yang salah dengan apa yang kita makan.
Mengutip laman Metro, Selasa (25/2/2020), aroma bawang ini dikenal dengan istilah OGA. Aroma ini terjadi bukan karena kita banyak mengonsumsi bawang-bawangan, tapi karena adanya kumpulan bakteri tertentu.
"Setiap vagina memiliki bau yang khas pada masing-masing perempuan. Ini karena kumpulan bakteri tertentu yang disebut mikroflora yang ada di vagina," ujar ahli kebidanan, kandungan, dan kesuburan dr. Larisa Corda.
Bakteri ini cukup sering datang dan menimbulkan aroma yang menyerupai makanan yang difermentasi, sehingga tak heran jika aroma bakteri tersebut seperti roti sourdough hingga yoghurt.
"Faktor-faktor seperti pendarahan vagina, air seni, keringat, dan bahkan stres juga memengaruhi aroma vagina," ungkap dr. Corda.
Ada juga perubahan kecil pada saat menstruasi yang menyebabkan perubahan kadar hormon. Akan tetapi jika dirasa perubahan bau sudah seperti bau busuk dan mencurigakan, maka segeralah meminta bantuan medis profesional, mengingat hal ini bisa jadi tanda bahaya.
Adapun hal lain yang wajib diperhatikan selain perubahan aroma adalah adanya perubahan warna, karena itu bisa jadi gejala infeksi jamur atau infeksi menular seksual (IMS), seperti trikomoniasis. Infeksi ini ditandai dengan cairan keputihan vagina yang berwarna kuning hingga hijau.
Waspada juga juga keluhan diiringi rasa pegal dan gatal di dekat area masuk vagina, ditambah rasa sakit saat buang air kecil maupun ketika berhubungan seks. Tapi di kebanyakan kasus mereka yang mengalami infeksi trikomoniasis tidak memiliki gejala sama sekali.
Baca Juga: Bahaya Buat Bumil, Ini Dampak Pertumbuhan Bakteri Berlebihan di Vagina
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026